Update Terbaru ALG

Rabu, 12 Juli 2017

Kamu Memenangkan Rinduku

“Ouh!”


Uh! Darah merembes lagi, mencorak di kaos kaki. Terengah, aku menekuk lutut berusaha mengumpulkan sisa tenaga. Jalan semakin buruk, becek dan licin tak terhindarkan setelah hujan sempat mengguyur ketika acara tadi berlangsung. Sepatuku yang menapaki lumpur jalanan sukses membuat bebatuan sungai yang kupijak untuk menyeberang menjadi licin. Dan aku terpeleset, basah. Sungguh, aku tidak mau lagi menjadi panitia acara di tempat seperti ini. Sangat melelahkan!


Entahlah, ada sesak berdesakan dalam dada melihat darah yang telah kuakrabi itu. Memaksakan diri, aku melanjutkan langkah yang masih panjang. Jalan berliku, naik turun, penuh kerikil, becek, licin, menempuh aliran air sungai beberapa kali. Aku benar-benar tertatih. Jika ini terlalu dramatis memang begitulah adanya. Nyawaku serasa tinggal tiga per lima.


Sesak yang tak kumengerti itu aku rasakan semakin keras memukul dada. Mendetak seirama langkah yang begitu lemah. Kepala yang sudah pening sejak acara berlangsung, kini semakin berdenyut menyakitkan. Ah, kamu... kamu!


Ingatan tentangmu menyeruak. Seluruhnya!


Selalu saja seperti ini. Selama sibuknya menit detik yang kulalui, aku merasa baik-baik saja. Bahkan aku begitu yakin bahwa aku memang sudah sangat baik-baik saja—tentang kamu, apapun itu. Namun, ternyata aku kalah bertaruh dengan diriku sendiri.


Hari ini aku melihat sendiri perasaanku seutuhnya. Dan aku berharap, di kejauhan sana kamu mendengar lirihku di ujung letih yang terus saja membisikkan namamu. Tanpa memaksa untuk aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang, yang sungguh aku ingin adalah kamu tahu.


Bahwa rinduku masih untuk kamu. Sosok kamu masih mendiami ingatanku. Suaramu masih mendebarkan hati hingga tak tentu. Namamu masih selalu tergores oleh penaku. Pun kamu masih menjadi alasan terbesar lahirnya diksi-diksi metaforaku.


Gedung putih tempat aku tinggal mulai terlihat. Kuhentikan langkah sebentar. Tubuh luruh, aku terduduk memeluk lutut. Napas terputus-putus. Sesuatu yang hangat merembes di atas pipi.


Dan air mataku sekali lagi untuk kamu!


Semoga kamu merasakannya.


Kumohon dengarkanlah, “Aku rindu...”
“Merindukanmu.”
“Benar-benar rindu.”
“Masih kamu.”
“Aku rindu kamu.”
“Kamu!”


Semoga angin menyampaikan seluruh suara hatiku untuk kamu.
Dengarkanlah, aku... sangat memohon.


(alg)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERITA TERUPDATE