Update Terbaru ALG

Kamis, 27 Juli 2017

Kepada Sebuah Hati

Sayang, maaf aku sering mendahului takdir Tuhan tentang kita. Aku tak jarang memikirkan kamu yang entah siapa dan dimana. Aku suka membayangkan masa depan yang akan kita jalani berdua. Apakah kamu juga? Jika tidak sampai sejauh itu, setidaknya kuharap rapalan doamu tak melewatkan tentang kebaikan masa depan kita.


Sayang, izinkan hatiku merindukanmu mulai dari sekarang meski sosokmu masih menjelma siluet dalam benakku. Kepada kamu kelak seluruh rinduku bermuara. Hanya untuk kamu hati ini aku jaga. Doakan aku mampu bertahan sampai waktu berpihak menyatukan kita. Pun aku selalu mendoakanmu. Mari kita saling mendoakan, kemudian doa-doa kita membumbung tinggi turut di"aamiin"kan penghuni langit.


Sayang, aku suka berkhayal tentang hari-hari yang akan kita lalui berdua. Kamu yang bersikap manja, atau aku yang tiba-tiba merajuk cemburu. Ketika aku memasak di dapur, kamu tiba-tiba datang membuat kacau. Aku sibuk mencuci piring, kamu dengan dalih membantu malah memeluk dari belakang. Menempelkan dagumu di atas bahuku, kemudian membisikkan kata-kata cinta. Selanjutnya pipiku bersemu merah dan kamu berkata, "Menggemaskan sekali Istriku ini."


Sayang, aku tidak mau kalah romantis. Ketika menyetrika baju-baju kita, sesekali akan aku selipkan secarik kertas berisi puisi cinta ke dalam saku kemejamu. Setelah membacanya, entah ketika akan berangkat kerja atau di tempat kerja, sekembalimu akan kamu balas untukku hadiah sederhana. Kecupan mesra tanda sayang, misalnya. Kemudian lagi-lagi aku jatuh dalam pesonamu.


Sayang, kelak aku ingin kita pergi berdua di tempat kesukaanku. Di sebuah tempat yang tinggi, kita lihat pemandangan kota dengan kerlap-kerlip lampunya. Atau di alam terbuka saat langit malam begitu cerah, bertabur bintang dimana-mana. Aku akan berteriak dan berlarian bahagia seperti anak kecil yang mendapat sekantong permen. Sementara kamu, hanya berdiam di tempat dengan senyum yang tak lekang melihatku. Kemudian aku sesekali berlari ke arahmu, memeluk erat, dan kamu membalasnya penuh cinta.


Sayang, kemana pun kita pergi berdua genggamlah erat tanganku. Sekali pun tak bisa, biar aku yang menggandeng lenganmu. Aku tak akan bisa terlalu lama jauh darimu. Kelak, jangan sering membiarkan aku sendiri atau aku akan menyambut kepulanganmu dengan tangis rindu. Jika aku diam, tak mau bicara, itu adalah puncak amarahku. Jangan katakan apapun, cukup raih lenganku dan jatuhkan tubuhku dalam dekapmu.


Sayang, kita akan punya banyak cara untuk menciptakan keromantisan-keromantisan yang sederhana. Bukan seratus tangkai mawar merah, atau makan malam di restoran ternama dengan pelayanan spesial. Cukup sepiring berdua, atau menikmati secangkir teh berdua di pekarangan belakang rumah sembari mencumbu gerimis sore. Aku bercerita banyak hal tentang masa kecilku, sementara kamu penuh perhatian menjadi pendengar yang baik. Sesekali kita tertawa, juga membicarakan rencana masa depan kita. Tentang buah hati, misalnya.


Sayang, kelak kita ciptakan kebahagiaan dengan cara-cara sederhana. Menjaga komitmen atas dasar iman dan cinta kepada Allah. Kamu menjagaku, aku menjagamu. Kita saling menjaga sampai ruang keabadian masa.


Sayang, aku rindu. Aku masih menunggumu. Kapan kamu datang menjemputku?


- Al Ghumaydha' -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERITA TERUPDATE