Update Terbaru ALG

Selasa, 08 Agustus 2017

Dua Keping Seratus Rupiah

Namanya Zizi, gadis cilik usia lima tahun berwajah menggemaskan.

"Kakak, Zizi diketawain." suaranya parau.

"Kenapa, Sayang? Siapa yang ngetawain."

Mata kecil itu merebak, merah. Wajahnya bergurat menahan air mata. Ah, gadis manis yang perasa. Kamu benar-benar perasa, Sayang...

"Sepatu Zizi bolong, diketawain temen-temen."

Kedua matanya yang basah diucek, aku meraihnya mendekat. Satu bulir jatuh, kuusap. Aku masih ingat dua hari lalu ketika jam istirahat. Dia bermain ayunan sendiri, kuhampiri.

"Zizi kenapa sendirian? Gamau jajan sama temen-temen?"

Tak menjawab, hanya kudapati gelengan lemah.

Hati-hati kutanya, "Zizi bawa uang saku, kan?"

Telapaknya yang sedari tadi menggenggam di pangkuan ia buka. Dua keping logam seratus rupiah. Sirrr. Hatiku seperti disentuh benda dingin.

"Wah, ini bisa beli permen. Yuk, Kakak anter."

Bukannya berdiri, gadis itu melongok ke bawah. "Zizi pengen sepatu baru, Kak. Kata Ayah Zizi harus nabung sendiri. Zizi mau sepatu baru biar semangat sekolah. Ayah bilang kalo Zizi pinter nanti bisa sukses. Kalo sudah besar dan punya uang banyak Zizi mau beli permen yang banyak."

Ah, mataku merembes hangat tanpa komando. Zizi, gadis yang manis. Bulu matamu yang lentik ini pasti mirip Ibumu. Ya, Ibumu di sana pasti senang melihat putrinya semanis ini. Sayang kamu tak berkesempatan sekedar bertemu dengannya. Bukankah dia tak kembali dua jam setelah melahirkanmu? Beruntung sekali Ibumu, dia gugur sebagai syahidah.

Zizi, satu keberuntunganmu adalah kau memiliki Ayah hebat yang sekaligus merangkap tugas sebagai Ibu. Hei, pasti dulu dia kerepotan mengganti popokmu. Aku tahu semua alasan di balik sepatumu. Ayahmu hanya seorang tukang service dengan upah tak seberapa, lebih banyak sepi pelanggan.

Zizi, sayang... dari semua kesakitan ini ada satu hal yang menjadi keberuntungan Ayah dan Ibumu. Itu adalah kamu. Kau harus bisa membeli permen-permen itu.

(alg)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERITA TERUPDATE