Update Terbaru ALG

Minggu, 13 Agustus 2017

Hijrah

Oleh : Al Ghumaydha'


Beberapa waktu lalu datang seorang teman mencari saya ke asrama. Kebetulan dia datang ketika saya tidur siang. Lamat-lamat mendengar isak tangis, saya terusik dan bangun. Saya dapati ia sudah sesenggukan. Serta merta saya bangkit merengkuhnya, mengelus-elus bahunya. Tangisnya kian kencang. Sengaja saya biarkan, saya mengerti dia butuh melegakan semua bebannya lewat air mata itu. Dan pelukan seseorang yang ia percaya adalah kekuatan lain yang akan semakin menangguhkannya.


Masih terisak, dia mengeluarkan seluruh keluh kesahnya. Saya tersenyum mengerti, tidak lagi terkejut. Curhatan yang sama seperti yang sudah-sudah dari sahabat-sahabat saya lainnya (colek kalian sahabat seperjuangan hijrah di Bumi Orek-Orek alias geng nongkrong makan sempolan di kantin putih). Hanya berbeda kasus, namun tetap pada inti yang sama. Ujian dari hijrah.


Dia belum lama hijrah. Mulai belajar mengenakan busana jilbab serta memanjangkan kerudung. Banyak menanyakan ini-itu yang berbau syariat Islam. Banyak mengganti post-post statusnya dengan tulisan-tulisan yang lebih bermanfaat. Sampai kemudian ada seorang teman yang merasa terganggu dengan tulisan-tulisannya itu. Padahal dia sama sekali tidak mengkhususkan tulisan itu untuk siapa pun, hanya tulisan. Just self reminder for her.


Entah karena sebegitu tidak suka atau bagaimana, sampai seorang teman itu menghina hijrahnya. Pun mengungkit seluruh masa lalunya, bahkan mengumbar di sosial media. Hati sahabat saya terusik. Masa-masa jahiliyah yang susah payah ia tutup rapat harus tersingkap dengan sebegitu mudah.


Air mata luka itu membasahi kerudung lebarnya. Isak pilu itu masih tergugu. Saya minta dia istighfar. Tidak ada perjalanan hijrah tanpa ujian. Satu ujian lulus, akan datang ujian lain satu tingkat lebih berat lagi. Memang sudah begitu formulanya, dimana pun tempatnya. Hanya saja, setiap satu orang dengan orang lain mungkin berbeda jenis-jenis ujian yang ia terima. Maksudnya? Ada yang ujiannya pertentangan dari keluarga, sahabat dekat yang menjauh, orang-orang sekitar mengucilkan, godaan masa lalu yang masih melambai, atau godaan dari lawan jenis, dan atau atau yang lainnya. Banyak. Beragam ujian ini tergantung kadar kemampuan setiap orang dalam menghadapinya. Mengutip apa kata ustadz/ah di acara-acara kajian, “Bukankah Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuan?”


Ukhti, sayang... Congrats! Allah sayang sama kamu. Serius deh. Kamu tahu? Biji kurma itu ditanam dengan sangat dalam agar akarnya mampu tumbuh besar dan memanjang ke dalam sehingga menopang kuat pohonnya. Demikian juga Allah menekan kamu dengan ujian-ujian hijrah agar kamu menjadi semakin tangguh. Biar kamu jadi muslimah seterong! Berbahagialah, Cantik karena Dia masih begitu peduli sama kamu.


Kembali pada sahabat saya. Meliht masa lalunya yang masih jahiliyah harus disingkap lagi dengan paksa, bahkan sampai diumbar kemana-mana tentu saja dia begitu malu. Ketika telah hijrah sebenar-benar hijrah kemudian diungkit-ungkit aib masa silamnya, hati mana yang tidak terluka? Lantas, adakah yang baik-baik saja dengan itu? Jawabannya, ADA. Afwan, saya tidak sedang menulis fiksi. Ini fakta yang benar-benar dilihat oleh mata dan hati saya sendiri, juga beberapa teman saya yang lain. Ketika orang lain hijrah dengan begitu susah payah menutup masa lalunya—seperti sahabat yang tadi saya ceritakan, justru dia dengan begitu enteng mengorek masa lalunya sendiri untuk mencari pembenaran atas kesalahan yang dia perbuat dalam perjalanan hijrahnya. Bingung? Intinya, dia hijrah, melakukan kesalahan, diingatkan, justru mengungkit masa lalunya untuk menunjukkan bahwa pencapaian hijrahnya ini sudah cukup keren dan kesalahan yang dia lakukan bisa dimaklumi. Sekali dua kali pemakluman itu diberi, dia mengulang kesalahan yang sama, diingatkan justru kembali mengungkit masa lalunya. Gemes, kan, ya? Masa mau gitu terus sampai lebaran kucing? Terus, yang seperti ini hijrah apa namanya? Hijrah abal-abal? Ah, saya tidak punya kapasitas apapun untuk menilai (kesungguhan) hijrah seseorang.


Sebenarnya dua cerita tadi sama-sama memiliki kesinambungan dengan topik kita, ujian hijrah. Di cerita kedua, barangkali dia belum mengerti formula hijrah dengan banyak ujian sehingga dia pun barangkali belum menyadari bahwa kesalahan yang terus ia ulang adalah bagian dari ujiannya. Allah peduli sehingga ingin mengukur sampai mana kesungguhan hijrahnya. Allah masih memperhatikan dia. Ini juga poin kesyukuran yang tak jarang dianggap sepele kemudian dilupakan begitu saja.


Ah, Duhai hati...


Sahabat saya yang tersedu tadi kemudian pergi mengambil air wudhu dan sholat. Dia merasa lebih tenang. Hapenya bunyi. Pengusik masa lalunya muncul lagi berceracau, dengan kata-kata tidak mengenakkan.


“Sudahlah, tidak usah digubris. Biar dia capek sendiri menjelekkan kamu seperti itu. Kalo kamu ladeni, kamunya untung engga rugi iya. Rugi waktu, tenaga, pikiran. Fokus aja terus sama hijrahmu, jangan kendor hanya karena satu ujian ini. Persiapkan dirimu untuk ujian yang lebih tinggi lagi levelnya. Kalo mereka mengusik hijrahmu ini, masih ada kami yang mendukungmu. Apalagi kamu punya Allah. Doakan saja mereka suatu hari bisa nyusul langkahmu. Semangat!!!”


Dan pesan-pesan itu bernasib malang, hanya terbaca tanpa balasan. Terbiarkan.


“Ukhtifillah, betapa aku menyayangi kalian. Semoga hati dan langkah ini selalu dikuatkan. Semoga pertalian ukhuwah kita kekal hingga jannah-Nya. Kabulkanlah, Ya Allah.”


Sumbawa, 7 April 2017


-----------------------------------------

Tulisan "Hijrah" adalah asli, orisinil ditulis oleh saya sendiri, Al Ghumaydha'.
Pertama kali saya posting pada akun facebook saya pribadi dengan nama Al Ghumaydha di Sumbawa pada 7 April 2017 tepat setelah selesai saya tulis. Sahabat yang saya ceritakan di dalam tulisan ini adalah salah seorang teman asli Sumbawa yang ketika itu baru hijrah.
Setelahnya saya memang share di WA, instagram beberapa kali. Jika ada yang membagikan ulang dengan mengganti nama penulis aslinya. Sungguh, itu tidakan paling rendah di dunia kepenulisan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERITA TERUPDATE