Update Terbaru ALG

Selasa, 08 Agustus 2017

Ingatanku Tentangmu

Hujan akhirnya turun setelah lama mendung hanya bergelayut di atas sana. Aku menuju jendela, membuka tirai. Kubiarkan tempias rintik menjatuhi wajahku. Ah, aku suka sekali. Aroma tanah dibasuh rerintik hujan menguar begitu wangi. Aku terpejam, tenggelam oleh romantisme yang diciptakan langit.

Tak sengaja aku mengingat tentang bagaimana awal pertama kita jumpa. Ah, bukan. Hujan ini yang telah mengingatkanku.

Sore itu sudah hampir empat puluh lima menit aku menunggu angkot seperti biasa untuk pulang. Waktu semakin sore, sementara mendung kian pekat menutup sinar senja. Sudah beberapa kali kulirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Resah, khawatir tak mendapat angkot terakhir. Apalagi hujan sebentar lagi pasti akan turun. Ah, kukira nasibku sore itu benar-benar tidak baik.

Di bawah pohon trembesi aku merasakan satu titik basah mengenai pipiku. Kudongakkan kepala, titik-titik air berjatuhan. Cepat sekali, rintik kemudian deras. Aku berlari menuju emperan counter tak jauh dari tempatku berdiri.

Belum lama di sana, kamu dengan mengendarai motor dari arah jalan raya menepi. Kamu yang ketika itu mengenakan helm dan jaket hitam turun, menyusulku berteduh. Kulirik sedikit, kau melepas helm hitam itu. Aku mengembalikan padangan pada tempatnya, melihat hujan. Kembali cuek, tak peduli.

Dingin. Kedua tanganku sudah terlipat sejak tadi. Tapi bibirku tak lekang tersenyum, selalu saja hujan entah mengapa begitu menyenangkan untuk kucumbui. Aku sudah lupa kekesalanku soal angkot, entah bagaimana akan pulang nanti.

"Indah, ya? Aku juga suka hujan."

Aku terkesiap, menoleh ke sebelah kiri. Kamu tersenyum. Kubalas senyummu, setelah beberapa detik berpikir. Apakah ekspresiku begitu terlihat? Dan... hei! Apa kau memperhatikanku? Ah, peduli apa. Aku kembali sibuk mengagumi hujan tanpa menjawab komentarmu baru saja.

Deras mereda, tersisa rintik gerimis. Sudah hampir maghrib, aku tak punya harapan lagi sepertinya.

"Butuh tumpangan?"

Kalimat keduamu. Aku terlampau gengsi untuk menerima, lagipula bagaimana jika kau ternyata seorang psikopat yang hendak menculik dan mencincang seorang gadis cantik. Ah, buru-buru aku memukul kepala. Baiklah, bukan saatnya jual mahal di saat seperti ini. Ada banyak pekerjaan menanti di rumah.

"Terima kasih."

Kalimat pertamaku di jumpa pertama kita. Kau bersiap pergi meninggalkan aku yang sudah berdiri di depan gerbang rumah.

"Tidak perlu, cukup secangkir teh kapan-kapan. Aku ingin berkenalan dengan Ayahmu."

Huh. Aku hanya menatap datar.

"Ah, ya kau benar. Di zaman sekarang seorang gadis memang harus berhati-hati. Ada banyak penjahat. Jaga hatimu baik-baik, mudah saja bagiku mencurinya. Sampai jumpa lagi, jangan lupa secangkir teh untukku!"

Hujan sudah reda, tanah dan dedaunan basah. Menyisakan aroma wangi yang selalu kurindukan. Sekali lagi, bibirku mengulas senyum. Sepeninggalmu sore itu, aku berdecak sebal. Bagaimana mungkin ada orang begitu percaya diri seperti itu? Dan hari ini aku masih menggeleng tak percaya. Bagaimana mungkin aku menyerahkan hati untuk orang sepertimu? Benar-benar menyebalkan. Sebal yang kusuka. Ah, sial. Lagi-lagi aku tersenyum mengingatmu.

Ah, aku selalu ingat setiap inchi dari kenangan kita. Hanya saja, sejak kapan kau benar-benar berhasil mencuri hatiku? Aku tidak benar-benar mengingat itu.

(alg)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERITA TERUPDATE