Update Terbaru ALG

Minggu, 06 Agustus 2017

Khayalan di Atas Sebuah Nama

Oleh : Maharlika Igarani

Pergantian hari buatku adalah sebuah awal dan akhir bobot rohani manusia yang dilanjutkan dan diangkat. Terus menerus hingga manusia itu mati, kecuali perkara-perkara yang dulu disalurkannya pada manusia lain. Sehingga, ketika ia menikmati kasur tanah, perbuatan baiknya tak putus-putus, juga sebaliknya.

Kalau perbuatanku ini dapat dikategorikan perbuatan buruk, aku harap tidak ada yang meniru dan aku dapat berhenti dari berkutat yang begini-begini. Juga semoga permintaan maafku kepadamu dapat cepat tersampaikan, Tuan.

Tuan, aku minta maaf atas perbuatanku yang demikian.

Caraku melanjutkan hari dapat berupa menyemai ingatan pada masa lalu yang dapat menjadi guru paling kompeten membimbing dan tentang gambaran hari depan yang selalu kukhayalkan manis. Hari-hariku berkutat denganmu, mencintai orang yang sama setiap hari, menyambut pagi, menghidupkan malam-malam dingin. Aku akan selalu merasa disayangi karena pekerjaan memeras keringatmu yang akan kukagumi sebab kau ingin memberikan yang terbaik untukku, atau mungkin berupa kekacauan harimu yang kau tumpahkan padaku meski kau tak ingin. Kamu bersedia menyiapkan telinga ketika aku ingin bercerita tentang sebuah novel sastra, padahal kamu tak pernah tertarik dengan sastra, kecuali fiksi ilmiah. Kemudian kamu terpingkal-pingkal karena aku pusing membedakan stalaktit dan stalakmit. Setahun kemudian, rumah kita mulai diisi tangis seorang anak yang kita berusaha membangun hidupnya bersama, bahu membahu memberi pengertian padanya bahwa aku dan kamu saling mencintai untuk membentuk cinta yang utuh dan besar untuknya. Aku berjanji menjadi seseorang yang teramat kamu kagumi, meskipun kerap kali aku harus sebegitu menyebalkan. Kamu akan terus tersenyum ketika aku menggerutu tak karuan. Gambaran masa depan yang indah ketika kita bersama-sama, Tuan.


Aku tak ingin merusaknya dengan jatuh pada orang yang bukan kamu.

Bagaimana aku bisa membangun sebuah khayalan di atas sebuah nama yang nantinya bukan kamu, Tuan? Sebagaimana payahnya otakku menghapus nama itu, nama itu tetap saja melekat pada setiap fragmen kehidupan yang ingin kujalankan bersamamu. Nantinya, jika kamu bukanlah orang itu, apakah aku dengan mudah mengganti nama itu dengan namamu yang sebenarnya? Nama yang sebelum aku lahir sudah disandingkan denganku. Mungkinkah aku akan biasa-biasa saja jika nama orang itu menghiasi percakapan kita dan nama kontaknya tiba-tiba muncul di layar ponselku dengan pesan ucapan selamat di hari besar kita berdua?

Aku dengannya sudah berjanji untuk tidak saling melupakan. Janji yang dapat terealisasi yang entah seperti apa. Apa yang tidak harus dikenang dan apa yang terkenang? Aku sudah melangkah untuk memaknai sebuah nama, nama orang itu, Tuan. Maka, aku tidak bisa berjanji jika nanti aku akan mudah menghapus makna-makna tertentu dari nama itu. Oh, apakah aku akan berani bercerita tentang makna itu padamu nanti? Dan jika kamu adalah orang itu, apakah aku berani berkata bahwa kamu sedemikian bermakna?

Aku percaya, Tuan, bahwa Tuan nantinya adalah manusia paling berani berjanji denganku untuk tidak saling melupakan. Karena janji untuk tidak saling melupakan itu tertuang pada janji besar di depan-Nya, bukan janji maya yang kami sendiri pun tidak pernah yakin karena tidak akan bentuk terikat untuk terus berpegang padanya.

Kalau bisa, kalau saja ini bisa, aku ingin terpenjara pada sebuah prasasti dan kamu yang akan melunakkan prasastiku dengan janjimu yang agung. Kalau saja cara ini bisa digunakan, dan aku tidak menjadi manusia tanpa hati melainkan hati yang cukup satu itu tidak tersakiti hanya karena salah mencintai.

---

Maharlika agak aktif menulis di maharlikaigarani.tumblr.com.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERITA TERUPDATE