Update Terbaru ALG

Selasa, 29 Agustus 2017

Prahara Selaksa Rasa

Oleh : Al Ghumaydha


Pemandangan yang sama telah dilihatnya selama tiga hari terakhir sejak ia pindah di kos baru. Tanpa sengaja sepasang bola mata Fida menangkap seorang wanita duduk termenung di teras rumah yang tepat berhadapan dengan rumah kos barunya. Kening Fida berkerut heran. Tatapan wanita berambut pendek sebahu itu kosong dan sayu, mimik wajahnya menyiratkan kesenduan yang dalam.


Wanita itu mundur sedikit, badannya bergetar ketakutan. Kedua tanganya memegang kepala seraya berteriak histeris. Fida tidak mengerti, gadis itu panik. Kenapa? Ada apa? Fida sungguh bingung tak memperhatikan sekelilingnya sampai tiba-tiba datang seorang pemuda bertubuh tegap datang merengkuh wanita itu, berusaha menenangkannya.


"Maaf, saya sungguh tidak tahu apapun. Saya hanya ingin menyapa tapi tiba-tiba...."


"Tidak apa-apa. Ibu memang selalu seperti ini jika bertemu orang asing." sahut pemuda itu ramah.


"Oh, begitu. Mm... kenalkan, saya Fida. Saya baru pindah ke kos depan itu tiga hari yang lalu."


"O, tetangga baru ya? Saya Adnan, dan ini ibu saya." Pemuda bernama Adnan itu pun menunduk, menghadap ibunya. "Ibu, ini namanya Fida. Dia orang baik."


Si Ibu mengangguk ragu, berusaha percaya pada putranya. Fida pun tersenyum ramah kepada wanita itu.


***


Sejak bertemu dengan Ibu Adnan pada sore itu, sebuah siluet sosok berkelebat dalam benak Fida. Ibu Adnan telah mengingatkan gadis itu pada neneknya. Karena hal tersebut, Fida berinisiatif membawa seikat lili putihbunga kesukaan neneknyauntuk wanita itu. Perlahan Ibu Adnan menyentuh bunga dalam pangkuannya. Tanpa menoleh kepada Fida, Ibu bergumam, "Can... tik."


Lima menit sebelum Adnan tiba di rumah, Fida telah berlalu pulang ke kosnya. Pemuda itu tertegun atas apa yang ia lihat saat ini. Adnan ingin membantah, tapi keajaiban itu telah ia lihat sendiri dengan nyata. Sangat jelas senyum yang dia rindukan selama 6 tahun terakhir terbit dari kedua sudut bibir Ibunya.


"Ibu, bunganya cantik sekali. Ini dari siapa?"


"Fi... da." jawab Ibu terbata seperti biasa tanpa melepas pandangan dari lili putih itu. "Can... tik. Su... ka."


Adnan tertegun. Ah, gadis itu. Bagaimana dia bisa melakukannya?


***


Hampir dua bulan Fida lalui tanpa melewatkan hari bersama Ibu Adnan. Gadis berkerudung lebar itu mengajak ibu ngobrol, mendengar murrotal bersama, kadang mengajak Ibu tilawah Alquran, atau tak jarang membawakan masakannya. Tentu saja hal tersebut tak lepas dari perhatian Adnan. Pemuda dengan jenggot tipis di dagunya itu melihat cahaya kehidupan terbit kembali dari wajah sang ibu.


"Kenapa kamu begitu perhatian kepada ibuku?"


"Nenekku mengalami tekanan mental sejak Kakek menceraikannya. Kondisi beliau sama seperti Ibumu. Pandangannya selalu kosong dan cahaya hidupnya redup. Itulah kenapa hatiku tergerak untuk menjaga ibumu yang selalu mengingatkanku pada Nenek."


Kalimat yang baru saja mengalir dari mulut Fida dengan bergetar cukup menjelaskan apa yang dia rasakan. Sorot matanya yang teduh menyiratkan kejujuran dengan nyata. Adnan tak menampik bahwa gadis itu sungguh tulus pada Ibunya.


"Jadi benar kalau laki-laki pantas disebut jahat. Ayahku sering memukul Ibu dan pergi berselingkuh dengan wanita lain. Karena sikap Ayah tersebut Ibuku depresi berat sehingga Ayah meninggalkannya begitu saja. Setelah Ayah pergi depresi yang Ibu alami semakin parah, dan kondisinya kini seperti yang kamu lihat."


"Nenekku dan Ibumu sungguh mirip ya? Tapi jika kebanyakan laki-laki jahat, menurutku kamu perkecualian."


"Aku adalah satu-satunya harapan yang dimiliki Ibu. Itulah kesadaran yang mendorongku melakukan ini. Lagipula Allah pun menjanjikan surga-Nya jika kita berbakti pada orang tua, kan?"


Fida tertegun. Ah, sungguh pemuda yang dirindukan surga. Dalam hati Fida tak menampik bahwa dia mengagumi sosok Adnan. Pemuda yang berusaha mencukupi hidupnya dengan mengajar di sebuah Madrasah Tsanawiyah itu begitu teguh dan arif dalam menyikapi jalan takdirnya.


***


Minggu pagi itu matahari masih hangat ketika sosok pria berkulit kuning langsat mengetuk pintu sebuah rumah di ujung gang. Tak lama daun pintu terbuka. Dua pasang mata itu bertemu.


"Dias?"


"Hai, Al. Apa kabar? Oh, kamu sekarang berkerudung?"


Kunjungan yang sama sekali tak ia duga sebelumnya. Fida hanya sedikit bicara dalam pertemuan itu. Entah mengapa, dia merasa tak berminat menanggapi kunjungan pria yang kini duduk di hadapannya. Sementara pria itu sangat bersemangat menceritakan banyak hal. Dia masih sama seperti dulu, seolah tak pernah terjadi apapun satu tahun yang lalu. Ah, tentu saja pria itu berpikir semuanya baik-baik saja. Karena memang hanya Fida yang merasakan luka batin itu, sendirian.


Fida sungguh tidak mengerti alur skenario selama satu tahun terakhir. Bukankah satu tahun yang lalu Dias melamar gadis pujaannya itu? Bukankah seharusnya mereka sudah menikah? Tapi... mengapa sedikit pun Dias tak menyinggung tentang gadis yang selalu dia ceritakan dengan menggebu-gebu itu. Fida membodohkan diri karena sibuk memikirkannya.


***


"Ibu, dulu ada seseorang yang sangat kupedulikan tapi dia lebih memilih gadis lain daripada aku. Karena kecewa aku pun melupakan orang itu. Kami pun telah berpisah dalam waktu lama, tapi beberapa hari terakhir orang itu datang menemuiku lagi. Apa maksudnya semua itu?"


Fida tahu bahwa wanita yang ia ajak berbagi cerita tak akan merespon. Ibu Adnan lebih sibuk memandangi bunga lili dalam vas yang baru saja diganti olehnya. Namun tanpa dia sadari, di balik jendela berlapis tirai sosok bertubuh tegap itu mematung untuk beberapa saat. Ada gelitik aneh yang menjalar.


"Siapa orang itu? Apa kamu masih menyukainya?"


Fida terhenyak kaget. Adnan telah berdiri di ambang pintu.


"Curang! Kamu nguping, kan?"


"Anak-anak muda menyebutnya CLBK, Cinta Lama Bersemi Kembali. Mungkin kamu sedang mengalami itu, Fid."


"Begitukah? Hmm, aku tidak yakin. Ah, entahlah. Lupakan saja!"


Dering ponsel terdengar. Nama pria berkulit kuning langsat itu tertera jelas di layar ponsel Fida. Ada rasa enggan untuk mengangkatnya. Entahlah, gadis itu tak memiliki alasan yang pasti. Tapi ada satu hal yang dia yakini, detik dimana dia berada saat ini adalah rasa nyaman yang tak ingin dia tinggalkan.


Hening mengudara tiba-tiba. Gelitik aneh itu mengganggu jalan pikir Adnan lagi. Pemuda berjenggot tipis itu tak paham dengan kehendak perasaannya. Ada khawatir yang sulit diterka makna mendorong pemuda bertubuh tegap itu membuat harapan tak logis dalam hitungan detik. Adnan ingin waktu berhenti saat itu juga, agar apa yang ada di depannya tak berlari pergi.


***


Sebuah kotak kecil keluar dari saku jaket Dias. Pria itu meletakkannya di atas meja, tepat di depan Fida. Gadis berkerudung itu menatap kotak yang disodorkan padanya dengan kening berkerut.


"Apa itu?"


"Hanya hadiah kecil. Terimalah!"


Fida mendapati kotak musik berbentuk hati. Dia membukanya, dan terdengarlah alunan melodi syahdu dari sana. Aneh. Tak ada reaksi apapun dari dasar hatinya.


"Aku minta maaf, Al. Ayo kita mulai lagi segalanya. Sejak awal aku telah salah memutuskan letak hatiku berlabuh. Lamaran itu tidak berjalan baik, dia menolakku. Sekarang aku ingin menghargai kesempatan baik yang ada. Aku ingin melihatmu yang selalu berdiri di belakangku."


Allah, apa lagi sekarang? Fida menjatuhkan pandangannya lurus ke depan. Pikiran gadis itu sibuk meraba dasar hatinya. Jika pria berkulit kuning langsat itu mengatakannya setahun yang lalu tentu saja Fida akan sangat bahagia. Tapi tidak untuk sekarang, yang ada hati gadis itu kini terasa beku.


Perjalanan hijrah Fida selama satu tahun terakhir telah menghapus seluruh ingatan semu tentang Diaspria yang  pernah singgah di hatinya. Kehendak tulus hati Dias yang tak direspon baik oleh hatinya sungguh menyadarkan Fida sepenuhnya. Kesetiaan dalam penantian panjangnya telah luruh bersama rinai hujan yang mengguyurnya setahun lalu. Rinai hujan di malam itu menjadi saksi bisu atas kisah cinta sepihak berujung air mata. Mata Fida tiba-tiba memanas mengingat semua itu.


"Terima kasih. Malam itu aku sangat berharap kamu datang, tapi nasibku masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Aku harus menunggumu lagi. Meski hujan turun aku masih terus menunggu, menunggu, dan menunggu. Dan ketika tetes air hujan terakhir menitik, baru kusadari bahwa selama ini aku sangat bodoh. Seharusnya aku tahu sejak awal kamu tidak akan pernah datang padaku. Aku merasa bodoh telah membiarkan hatiku jatuh pada seseorang yang bahkan tak pernah melihatku."


"Alfida...."


Fida menyodorkan kembali kotak musik berbentuk hati itu kepada Dias.


"Dias, aku tidak tahu apakah bisa menerima permintaan maafmu. Tapi aku berterima kasih karena kamu telah mengatakannya. Sekarang perasaanku padamu sudah tak sama seperti dulu lagi, dan aku sudah tak bisa mengulangnya. Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap padamu, tapi aku tidak membencimu."


"Al, maaf. Aku pun sungguh merasa bodoh karena tak pernah melihatmu sedikit saja waktu itu. Sekali lagi aku minta maaf. Tapi aku hanya ingin tahu, apakah sudah ada yang menggantikan posisiku?"


Pertanyaan Dias sungguh menyentak Fida. Gadis itu tiba-tiba menyadari bahwa teka-teki hatinya belum selesai. Jika benar dia sudah tak menanti Dias, tapi kenapa hatinya tak terasa kosong? Fida sama sekali tidak mengerti. Sekali lagi gadis itu berusaha meraba dasar hatinya yang bimbang.


"Kamu diam, berarti iya."


***


Hari berlalu dan gelitik aneh itu semakin nyata Adnan rasakan setiap kali gadis itu bertandang ke rumahnya. Pemuda bertubuh tegap itu pun menyadari makna gelitik aneh yang ia rasa ketika pandangan matanya tak sengaja jatuh tepat pada wajah teduh itu. Ces! Setitik embun membasahi hatinya. Astaghfirrullah.


Adnan bukan tak bisa menahan perasaannya, hanya saja pemuda itu tahu diri. Dia tidak mungkin merenggut hati yang telah dimiliki orang lain. Namun meski hal tersebut ia sadari, tetap saja sakit untuk menahan rasa yang tak pernah ia minta itu. Adnan sungguh ingin menjaga kesucian hatinya. Dia tidak memiliki pilihan.


"Fida, aku sangat berterimakasih atas kebaikanmu selama ini. Tapi aku pikir kamu tidak perlu meneruskannya lagi. Jangan salah paham. Aku hanya merasa sungkan kalau terus merepotimu. Aku hanya akan memohon padamu sekali saja. Jadi, tolong jangan datang lagi!"


Telinga Fida bagai menangkap gelegar petir. Kenapa hatinya tiba-tiba terasa nyeri? Perasaan aneh pun baru disadarinya sepekan terakhir. Astaghfirrullah, apakah kagum yang ia simpan kini telah berubah rasa? Benar.


Fida berusaha menampik perasaannya tapi tak bisa. Fida sungguh tak ingin rasa yang kini ia pendam menodai kesucian hati yang ia jaga dalam perjalanan hijrah satu tahun terakhir. Namun bila gadis itu menyampaikan kehendak hatinya lebih dulu, dia takut jika harus menerima kenyataan bahwa cinta sepihaknya kembali terulang. Lagipula, pemuda itu baru saja memintanya pergi.


Dilema melanda jiwa gadis bermata teduh itu. Fida tak ingin membuka pintu hati untuk siapa pun, kecuali ada yang mengetuknya lebih dulu. Baiklah, gadis itu harus tegas terhadap dirinya sendiri. Dia telah membulatkan tekad.


***


Lili putih di dalam vas itu mulai layu. Hampir dua minggu bunga itu tak diganti. Ibu Adnan memandanginya dengan tatapan sayu mirip hari-hari sebelum tiga bulan yang lalu. Adnan memperhatikan wajah Ibunya yang meredup bersamaan dengan layunya bunga lili itu. Adnan merenung.


"Fi... da, ma... na?"


Pertanyaan sama yang ia dengar setiap hari cukup menyesakkan dadanya. Ternyata dia salah mengambil keputusan. Bukannya lupa, gelitik rindu itu kian ganas menggerogoti hatinya. Tak hanya Ibu maupun lili putih di dalam vas, kini Adnan semakin sadar bahwa dirinya sendiri membutuhkan gadis berparas teduh itu.


***


Dias melangkahkan kakinya dengan yakin. Bukan masalah jika Fida tak menerima maafnya. Toh dia menyadari bahwa selama ini dirinya begitu keterlaluan terhadap gadis itu. Dias hanya ingin Fida mendengar penyesalannya.


Sosok bertubuh tegap telah mendahului berdiri di tempat yang akan ia tuju. Untuk beberapa menit Dias membiarkan sosok itu memunggunginya tanpa sadar. Lalu pemuda itu berbalik, keduanya kini berhadapan. Mata mereka saling bertemu satu sama lain.


"Apakah Anda mau bertemu Fida?"


"Benar. Dia ada di dalam, kan?"


"Rumahnya kosong, Mas. Kita terlambat untuk menemuinya. Saya permisi."


Adnan merasa telah kehabisan harapan, Fida sungguh pergi. Sementara Dias memandangi pemuda di depannya dengan menyimpan tanya. Apakah dia...?


"Tunggu dulu. Memang sudah terlambat untukku, tapi belum terlambat untukmu. Alfida sudah lelah menungguku yang terlambat mempedulikannya. Dia bahkan tidak bisa menerima permintaan maaf dariku. Jadi, cepatlah datang padanya. Jangan biarkan dia menunggu.”


Kadangkala takdir Allah menunggu keputusan manusia. Ya Allah, sampaikan teguran-Mu jika keputusan ini salah.


“Berilah saya alamat rumahnya! Saya akan datang untuk meminangnya.”~


2 komentar:

  1. Balasan
    1. Hehe terima kasih sudah baca, Kaka ^^
      Semoga tidak mengecewakan ^^

      Hapus

BERITA TERUPDATE