Update Terbaru ALG

Kamis, 03 Agustus 2017

Selamat untuk Pernikahan Kalian

Oleh : Al Ghumaydha'


Aku mengucapkannya dengan perasaan tidak baik-baik saja.


"Singa pun berterima kasih pada tikus yang telah menolongnya. Akhirnya, singa dan tikus bersahabat. Horeee!"
"Horeee! Yeayyy!"


Kompak dan penuh ceria anak-anak menyahut akhir dongengku. Mereka masih ribut ketika perhatianku teralih.


"Keyla, sayang. Pulang, yuk, Nak."


Salah seorang gadis kecil di antara anak-anak yang duduk di hadapanku menoleh. Rambutnya diikat dua. Bulu matanya hitam dan lentik. Hidungnya tajam. Ah, hidung itu....


"Yeeee, Bunda datang. Bunda jemput Keyla ke sini sama Ayah, kan?"


Deg! Aku hanya menunduk. Tiba-tiba satu sentuhan mendarat di pundak kananku. Aku menoleh.


"Kakak, besok dongeng lagi, ya. Keyla punya buku cerita baru, kemarin dibelikan Ayah. Nanti bacain dongeng di buku Keyla, ya. Keyla mau pulang dulu sama Ayah Bunda. Dadaaa, Kakak Cantik!" Gadis kecil yang manis itu berbicara padaku dengan semangat dan suara cadel.


"Siap, Sayang." jawabku seraya tersenyum dan menciumnya.


Dia melambaikan tangan dan meninggalkanku, menghampiri Bundanya yang telah menunggu. Wanita itu tersenyum padaku, kubalas sesantun mungkin. Keduanya melangkah pergi, meninggalkan rumah dongeng sederhana ini. Bola mataku mengekori.


"Ayaaaahh!"


Peri kecil bermata indah itu berlari menghambur dalam pelukan seseorang.


Dia! Itu dia. Allah, kenapa seperti ada yang menghujam di dalam dadaku? Kenapa hatiku masih saja gaduh seperti ini? Kenapa ngilu ini masih terasa? Kenapa sesak ini masih ada? Bukankah sudah berlalu lama, Allah? Lama sekali, bahkan.


Sudah berlalu sangat lama ketika dengannya aku merencanakan masa depan bersama. Menikmati secangkir teh berdua, belajar memasak berdua, menghabiskan senja berdua, juga membelikan buku cerita untuk anak-anak kami kelak. Ya... dan rencana itu tinggal rencana.


Dia telah melakukan semua rencana kami, tapi tidak bersamaku. Orang lain itu pasti lebih baik dan lebih sempurna dibanding aku. Dia cantik, tentu saja.


Peri kecil itu sempurna telah ada dalam gendongan Ayahnya. Allah! Dia melihatku, tersenyum. Senyum yang ringan, sorot mata yang mengucapkan kata maaf diiringi anggukan tipis. Aku terkesiap, lalu sebaik mungkin menguasai diri untuk tidak terbawa perasaan. Kubalas senyumnya sebaik mungkin, membalas juga anggukannya. Kuterima maafnya.


Dia berlalu, pergi dengan keluarga kecilnya yang pernah kami mimpikan berdua. Ah, bukankah sudah berlalu lama? Aku baru mengerti. Ternyata ikhlas tidak semudah yang kita ucapkan.


Oh iya, bagaimana dengan surat yang kukirimkan malam sebelum pernikahanmu? Sudahkah kau sampaikan titipan maafku untuk wanitamu. Maaf, aku pernah menjadi masa lalu laki-lakinya.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERITA TERUPDATE