Update Terbaru ALG

Sabtu, 02 September 2017

Akhwat Centil dan Ikhwan Sok Alim

Ditulis oleh Al Ghumaydha', gadis Jawa tulen penggemas karakter Pooh


Sebenernya ga sampai hati nulis judul di atas mengingat saya pribadi sama sekali masih jauh dari label "akhwat sejati". Tapi, justru itu saya menulisnya juga sebagai reminder bagi diri saya sendiri.


Hal ini saya perhatikan ketika dulu saya masih khilaf follow beberapa akun ajnabi di instagram, termasuk ajnabi yang tergolong selebgram (istighfar berkali-kali kalo inget, hmm). Benar. Ikhwah selebgram yang ganteng, mukanya teduh, ngajinya semerdu burung pipit, digandrungi jutaan followers akhwat, apalagi kalo punya kelebihan atau prestasi gemilang, beuh!


Dari kekhilafan di masa itu, sekarang saya baru menyadari sesuatu. Tentang bedanya ikhwan sama akhwat.


Akhwat itu, kalo ngfans sama ikhwan kebanyakan dari mereka (saya bilang kebanyakan lo ya, bukan berarti semua akhwat kek gitu in sya Allah) ga bisa ngontrol. Ga punya malu. Contohnya? Coba liat aja di kolom komentar postingan ikhwan-ikhwan yang ngehitz seperti Muzzamil, Fatih, Andre, dan sebangsanya. Saya jamin di sana kebanyakan kaum hawa yang komentar.


"Ma sya Allah, suaranya bikin meelting."
"Adeemmm banget kalo ngaji."
"Teduhnya akhi.."
"Akh, banyak akhwat yang ngfans tinggal pilih satu."
"Abang ganteng banget, hidungnya ga nahan."
"Mau dong dinikahin Abang."


Mulai dari memuji sampai berani komen minta dihalalin. Serius, ada! Saya ga jarang baca dengan mata kepala saya sendiri waktu itu. Bahkan, akhwat-akhwat centil itu ga kurang keberanian untuk DM, inbox, atau chat personal sampe para ikhwan itu mengaku risih. Duh, sabar ya Akh. Geleng-geleng kepala, asli. Jujur saya sebagai akhwat merasa dipermalukan kaum saya sendiri. Saya benar-benar heran dimana mereka meletakkan (maaf) harga dirinya sebagai seorang muslimah. Dimana letak izzah dan iffah yang seharusnya mereka jaga sebagai muslimah. Duhai, Ukhti... saya sungguh habis kata-kata untuk kalian yang merasa demikian. Sekali lagi, saya mengatakan ini bukan berarti saya sudah baik. Tidak. Justru dengan menulis ini saya ingin lebih berbenah lagi, pun semoga ada hati yang juga tergerak untuk berbenah diri.


Oke. Itu tadi versi akhwat, lalu bagaimana dengan ikhwan?


Air tenang menghanyutkan. Begitulah peribahasanya. Ikhwan itu lebih anteng daripada akhwat. Ikhwan itu bisa diem kalo ngfans. Benar. Diem tapi nyolong. Diem-diem stalk, diem-diem screenshoot, diem-diem liatin foto, diem-diem senyum sendiri, diem-diem jadiin foto sebagai wallpaper hapenya. NAH, LO!


Jadilah ini peringatan keras buat kalian para akhwat. GA USAH UPLOAD FOTO, NANTI KEMALINGAN! (Hehe, maaf capslock jebol).


Ini saya bukan asal ceplos ya. Suatu hari pernah ada temen akhwat yang gusar sendiri laporan ke saya kalo ada ikhwan suka simpen fotonya Ressa Rere. Sudah, satu contoh ini cukup bikin nyesek. Padahal notabene ikhwan ini sering ingetin temennya ini-itu.


Nah, ada lagi contoh dan fakta. Ceritanya ikhwan ini 'keliatan' alim. Pada suatu hari saya yang (sekali lagi saya jelaskan) waktu itu masih khilaf sekhilaf-khilafnya, ngepoin following dia. Siapa sih yang diikutin para ikhwan alim macam dia? Eh, ternyata pemirsa! Di situ saya shock, kaget sekaget-kagetnya, tercekat ga percaya, susah nelen ludah (halah drama pol ini 😂). Buanyak banget akun akhwat selebgram yang dia follow seperti Rahmi, Inez Ayu, Ressa Rere, de-el-el. Buset dah, alim cover doang ternyata, Bung! *emotngakak


Eh, sebentar. Saya hampir lupa bilang sebelum ada yang protes. Tidak semua ikhwan kayak gini loh ya, tapi ada. Ada.


Terus, baiknya gimana dong? Kalo  ngefans ya sewajarnya ajalah. Buat akhwat, cukup simpen rapi kekaguman itu, anggun dikit kek jadi akhwat. Biar pentalitan di luar, aplause kalo kamu bisa anteng soal ini. Sesulit-sulitnya kamu ga bisa nahan, ya minimal ga usah sampe minta dinikahin. Malu dong, Ukh.


Sementara, buat para ikhwan ga usah deh sok alim. Saya pribadi, jujur lebih mending ikhwan yang mau ngontak ramah, sopan, biasa aja (beda sama ikhwan centil, ini lain lagi kasusnya) daripada diem sok cuek tapi nyolong di belakang.


Semoga kita semua (saya dan kalian yang membaca ini) tidak termasuk golongan akhwat centil maupun ikhwan sok alim. Mohon maaf lahir dan batin buat siapa saja yang mungkin tersinggung dengan tulisan ini. Sungguh, saya menulis ini bukan berarti saya merasa sudah baik atau sempurna. Tapi saya juga masih berusaha memperbaiki diri, salah satu caranya dengan membuat tulisan self reminder seperti ini. Sekian, dan terima kasih sudah berkenan repot membaca.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERITA TERUPDATE