Update Terbaru ALG

Minggu, 10 September 2017

Sebuah Senja dan Sepotong Kue

Aku mendongakkan kepala. Satu titik basah jatuh di atas pipiku. Titik kedua mengenai kerudung merah muda yang kukenakan. Langit telah menggelap. Sudah tiga jam aku duduk di bangku tepi danau ini.


Seharusnya, paling tidak dua setengah jam lalu kita sudah duduk manis bersisian di sini. Berbagi cerita, menyaksikan langit jingga oleh mentari yang hendak pulang ke peraduan. Mencumbu senja yang sama-sama kita suka. Detik terus mendetak, senja pun berlalu dijemput kelam malam. Dan aku masih di sini, sendiri. Ah, tidak. Kue tart yang kuletakkan di sebelah kananku ini menemaniku. Masih merawat harap dalam cemas, adakah sosokmu datang, muncul dari belokan jalan itu. Terus kupandangi cercah cahaya senja yang menubruk air danau, mengkilat keemasan, indah. Sayang aku tidak benar-benar menikmatinya seperti biasa. Kepalaku lebih banyak menoleh ke arah jalan itu. Berharap kau berjalan dari arah sana, datang  menuju bangku ini.


Lampu telah menyala, temaram cahayanya meremangi wajahku. Sementara titik-titik ini terjun semakin banyak, kian cepat. Kulirik kue tart yang tepian kardusnya mulai basah oleh air hujan, kupandang nanar. Mendadak ada yang berdesakan di dalam dadaku, nyeri. Aku masih ingat persis bagaimana semangatnya diriku mendengar jawabanmu di seberang telepon malam itu. Juga ketika dengan malu-malu kukatakan penuh kejujuran, "Aku rindu."


"Aku juga."


Malam itu kamu setuju kita bertemu di tempat ini, tepi danau kecil favorit kita. Setelah menutup telepon, dengan penuh semangat dan hati seperti dipenuhi ratusan bunga mawar aku menyibukkan diri di dapur. Berkutat dengan adonan tepung dan aneka warna butter cream.


Ya, benar. Hari ini adalah ulang tahunmu dan kue ini untukmu. Belakangan ini kita jarang bertemu, tidak seperti dulu. Bukankah ada banyak kesibukan menyita waktumu? Ya, aku mengerti tentang itu. Hanya saja, kukira untuk sore ini saja meski sebentar kamu bisa menemuiku. Aku mengucapkan selamat ulang tahun, kemudian kamu menerima kue ini. Di bawah langit jingga kita lepas kerinduan yang telah bertumbuk-tumbuk menyesakkan.


Mataku terpejam, untuk sesaat kurasakan rintik yang kian menderas. Biar saja hujan ini mengguyurku, aku tak peduli. Dan aku menyerah. Kamu mungkin benar-benar tidak akan datang.


Pelan, dengan hampir tak bertenaga kususuri jalanan remang. Persetan dengan kue yang kutinggalkan di bangku itu. Seluruh rasa beradu menyesakkan. Ingin sekali kutumpahkan air mata, entah mengapa tak bisa. Derai hujan ini terus mengiring langkahku.


"Maaf, aku terlambat."


Tep! Langkahku terhenti mendadak. Satu suara itu diekori napas terengah memburu. Kudengar langkah mendekat di belakangku.


"Cukup! Berhenti sampai di situ! Berhenti! Jangan mendekat. Jangan berani mendekat."


Sesaat saling mematung. Hanya gemericik hujan yang menjadi latar cerita petang itu. Jika aku masih mau menekan ego sedikit saja, ingin sekali aku berbalik dan memintamu untuk sekedar bertanya tentang kabarku. Sayangnya emosi ini lebih banyak menguasaiku.


"Kue ini pasti enak sekali. Kau membuatnya sendiri, kan?"


Tak peduli, aku melanjutkan langkah. Berjalan menembus tirai-tirai air, meninggalkanmu bersama kue menyedihkan itu.


"Maaf."


Masih dapat kutangkap suaramu yang mengecil karena jarakku kian menjauh. Ah, ya. Kurasa kita memang butuh berjarak. Bukan untuk selamanya, sebentar saja hanya untuk mendewasakan rindu. Sampai jumpa lagi di pertemuan terbaik kita.


(alg)
~pada suatu senja menuju petang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERITA TERUPDATE