Update Terbaru ALG

Minggu, 24 September 2017

Sisa Harapan yang Patah

Di sini aku sekarang. Duduk di antara ratusan peserta seminar. Seluruh mata fokus menuju padamu, tak terkecuali aku. Sengaja kukenakan kerudung merah muda darimu, dengan harapan kau mengenali dan melirik sedikit saja ke arahku. Sudah berapa lama kita tak saling temu? Lihatlah orang-orang yang berdecak begitu kagum melihatmu di atas panggung itu. Dapatkah kau mengerti patah-patah hatiku? Kurasa tidak. Apakah peduli? Bahkan sekali pun tak pernah kau tanyakan kabarku


Selesai, MC menutup acara yang baru saja kau isi. Satu per satu manusia ini meninggalkan kursi, membubarkan diri. Lihatlah, betapa berseri wajahmu itu. Apakah kau sebegitu bahagia dengan orang-orang yang berebut mengajakmu foto bersama? Sedangkan denganku, sekali pun tak pernah. Sengaja aku tak bergeming, masih merawat harap kau melihat ke arahku. Sampai ruangan ini hampir benar-benar sepi, nyatanya apa? Pada akhirnya aku berdiri dengan perasaan yang sama ketika datang, atau bahkan lebih buruk. Aku benar-benar merasa kepayahan. Dengan lesu kubawa pulang patah-patah yang semakin bernanah.


Aku masih berharap. Perasaanku kesal. Ingin sekali aku berteriak. Bagaimana aku bisa menjelaskan tentang ini. Setidaknya panggil namaku, cukup sesederhana itu. Sekali lagi aku melirik ke arahmu, ah, kau masih sibuk. Kutarik senyum sinis, kemudian berlalu melanjutkan langkah ke arah pintu keluar.


Beberapa langkah pendek kuhentikan. Allah, ada yang berat untuk kutinggalkan. Sekali lagi, aku menoleh ke belakang mencari seraut wajah itu. Ah, kau.. ingin sekali aku membunuhmu. Sedikit embun merebak, basah di pelupuk mata. Buru-buru kutahan untuk kembali melangkah keluar ruangan.


"Tunggu!"


Satu suara menyentak kedalaman hati dan pikiranku. Seolah memberi komando seluruh gerak tubuhku. Ada yang panas dan ngilu mendadak di rongga dada. Aku berbalik, mencari suara itu.


"Hai!" sapamu dengan begitu ramah dan senyum khas, seperti biasa.


Ah, jika bisa ingin sekali aku memukul wajah ini. Lihatlah, kau bahkan terlihat tak merasa berdosa sedikit pun. Tidak. Aku tidak baik-baik saja sekarang. Aku yakin. Ngilu yang kurasa kian menyayat kentara.


Tanpa menjawab apapun, hanya kupamerkan embun yang sudah hampir mendesak pertahanan. Satu tetes jatuh. Aku tak peduli. Berbalik, pergi.


"Hei, ada apa?"


Kudengar langkah kecilmu berusaha mengejar. Aku tidak peduli dengan penjahat sepertimu. Bahkan kau masih bertanya ada apa? Sama sekali tidak penting, bodoh.


Apakah aku salah? Apakah salah aku menunggumu dan tetap menunggu.


- Al Ghumaydha' -

2 komentar:

  1. Tulisanmu yang menggunakan hati mampu membiusku dalam indahnya lautan aksara. 👋👍

    BalasHapus

BERITA TERUPDATE