Update Terbaru ALG

Kamis, 23 November 2017

Bodoh dan Khayalku



Hai, apa kabar? Ini sudah kali kesekian aku menanyakan kabarmu tanpa jawaban. Aku bertanya, hanya siul angin yang berdesir.

Sekali lagi, seperti malam-malam yang kulalui bersama sepi. Aku ingin berbicara padamu. Ini tentang rindu dan beberapa hal yang masih bisu dalam gaduhnya kepalaku.

Aku merindukanmu begitu banyak tanpa penjelasan apapun. Aku tidak baik-baik saja untuk segala hal yang sering aku angankan tentang masa depan bersamamu. Bagaimana caraku menjelaskan ingin sebagai seorang yang pendiam?

Kamu siapa? Hanya sebuah nama dengan jutaan teka-teki di wajahmu.

Baiklah, cukupkan saja mukadimah ini. Akan aku mulai cerita malam ini. Meski kamu entah mendengar entah tidak, dalam jarak yang dibentang ribuan kota.

Kelak, akan datang suatu hari kita dipersatukan. Aku mengenalmu, kau mengenalku.
Aku suka berkhayal pergi ke pasar membeli buah favoritmu. Lalu pulang menyiapkan secangkir teh untuk mengantar pergimu mencari nafkah. Kau tak lupa meninggalkan setangkup kecup sebelumnya.
Aku suka berkhayal kita saling berpegang tangan sebelum tidur. Menumpahkan seluruh rindu. Aku bersandar di dadamu, menceritakan banyak hal. Apa saja. Kau khusyuk mendengarkan sembari mengelus kepalaku manja.
Aku suka berkhayal merajuk cemburu. Ketika kau lebih sibuk dengan pekerjaanmu dan abai dengan cerita-ceritaku. Berlebihan? Ah, wanita selalu begitu kan?
Aku suka berkhayal kau tiba-tiba manja seperti anak kecil. Mendadak meringkuk dalam pangkuan, lalu aku mengelus kepalamu seperti seorang Ibu menidurkan anaknya.
Aku suka berkhayal berdiri satu saf di belakangmu. Setelahnya kita duduk membaca kalam-Nya berdua. Sesekali kau membenarkan bacaanku yang keliru.

Namun, setelah khayalan-khayalan itu beberapa hal sedang aku khawatirkan. Tentang sebab-sebab kau tak bisa menerimaku. Keluhku, manjaku, cerobohku, atau apa-apa saja yang menjadi kurangku. Sudikah kau menerima?

Pertanyaan itu bergelung memenuhi dasar hatiku. Menjadi ketakutan-ketakutan yang aku tertawakan sendiri pada akhirnya. Betapa bodoh, sekali lagi demikian.

Aku mengkhayalkan semua itu, sementara apa kabar hati dan kepalamu? Jangankan berpikir kau memimpikan hal yang sama denganku. Aku cukup tahu kau bahkan tidak peduli dengan rinduku. Tidakkah wanita ini begitu bodoh?

Aku tidak punya penutup semanis cake cokelat untuk cerita malam ini. Hanya selengkung senyum terbaik untukmu. Semoga kau tak menolaknya :)

- Al Ghumaydha' -

2 komentar:

BERITA TERUPDATE