Update Terbaru ALG

Kamis, 28 Desember 2017

Menerima untuk Melepas


“Bagaimana, Rei?”

Aku tertegun. Ini pertanyaan ketiga Abi sejak dua hari yang lalu. Sampai hari ini belum juga aku mampu memberi jawaban. Entahlah, aku bahkan tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang.

Lebih dari itu, aku semakin tidak mengerti dengan sikapnya. Kemarin dia menyatakan pergi begitu saja tanpa sisa apa-apa selain meninggalkan luka harapan. Dia pamit tanpa penjelasan apa-apa. Tak peduli air mataku yang lolos berjatuhan.

Setelah pedih yang dia tambatkan, lancang tanpa permisi kembali datang. Kepada Abi dia meminta putrinya untuk dibawa pulang. Hei, dasar gila! Apa maunya?

Apakah hatiku ini semacam lelucon baginya?

“Putriku, katakanlah sesuatu. Kau tak harus menerima. Jangan diam saja seperti ini.”

Lagi, Abi bersuara sementara aku tetap memilih diam. Sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku sedang membencinya sekarang. Apakah dia kira perkara melepaskan dan menerima adalah mudah? Aku terlalu benci untuk menerima, namun terlalu sayang untuk melepaskan.

Kau---benar-benar ujian yang tak pernah habis untuk diriku. Aku hampir berdamai dengan permisimu yang lalu, kemudian kau hadir kembali dengan kejutan yang terlampau sulit kumengerti.

Ya, kau mungkin pamit untuk menjaga apa yang seharusnya kita jaga. Lalu kau datang untuk merampungkan apa yang pernah kita harapkan berdua. Dalam dugaanmu ini akan menjadi kejutan istimewa untukku. Ah, nyatanya tidak.

Aku banyak berbicara dengan Tuhan dan diriku sendiri. Masihkah kau pantas menjadi kepulangan bagi seluruh rindu ini?

“Abi, seseorang yang menurut Abi baik, selama itu bukan dia, Rei menerima.”

Hening. Angin kemudian bersiul memeluk dedaunan.

(alg)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERITA TERUPDATE