Update Terbaru ALG

Rabu, 07 Februari 2018

Percakapan Bisu

“Sejak hari itu, kita telah saling mengerti. Kau tentang hatiku, dan aku tentang hatimu. Katamu kita memiliki banyak kesamaan, juga tentang harapan-harapan. Namun, setelah hari itu aku tidak lagi tahu masih adakah namaku dalam panjat harapmu. Sementara aku belum juga letih melangitkan namamu dalam do’a di setiap sujudku. Aku tidak tahu lagi tentang bagaimana dirimu padaku. Ini hanya jika, jika kita masih memiliki harapan satu arah. Kau pernah bilang, jika ada nama lain datang lebih dulu padaku sebelum dirimu, kau ikhlas. Kita harus saling mengikhlaskan. Sekali lagi, ini hanya jika. Jika masih namaku yang kau tasbihkan dalam kidung dzikirmu, maka semoga Allah mengabulkannya. Sebelum saling mengikhlaskan kita harus melangitkan harapan, tentu saja.”



Selembar kertas itu ia tutup dengan cepat. Dia memejamkan mata erat. Satu embusan napas dibuangnya pelan, lalu kembali membuka mata. Ia melirik surat yang masih ditimang oleh tangannya. Dia membuka kembali selembar kertas itu, menatap dengan jutaan rasa. Secarik surat yang dikirimkan padanya dua tahun lalu. Baris-baris kalimat yang menghadirkan sendu dan harapan sampai hari ini.

Jutaan tanya dia hujamkan pada dirinya sendiri. Masih adakah harapan tertambat dalam hatinya? Telah berlalu bilangan tahun, apa lagi yang tersisa? Surat itu adalah satu-satunya dialog terakhir. Percakapan paling sendu sebelum kisah demi kisah diranggas masa.

Pertanyaan terbesar yang berputar dalam kepalanya, masihkah dia berhak atas harapan itu? Setelah apa-apa berlalu cukup pilu. Dia berusaha mengelak, menegaskan bahwa ini memang sudah selesai, berhenti saja. Dia meyakinkan hatinya sendiri bahwa tak ada lagi yang perlu dia harapkan. Semua akan baik-baik saja tanpa kata.

Sebelum saling mengikhlaskan, kita harus melangitkan harapan.

Ah, dia hampir beranjak. Namun, kekuatan besar mendorongnya untuk enggan. Sekali lagi dia membaca kalimat terakhir dalam surat sendu itu. Batinnya bergulat, ada apa dengan hatinya ini? Satu kalimat yang menjadi fokus bola matanya saat ini, berdenging tak berhenti.

Baiklah, aku akan datang.

Dia membulatkan tekad. Mengumpulkan lagi sisa-sisa harapan yang sempat layu dipeluk bisu. Sepasang kakinya melangkah yakin menuju puzzle impian yang kembali dia kaisi. Dia akan mengetuk pintu dengan segenggam do’a yang telah ia diskusikan dengan Allah.

“Siapa di belahan bumi ini yang tidak memiliki harapan? Aku ini perempuan. Setelah harapan, tak cukup tanpa kepastian. Namun, kau biarkan surat dariku ketika itu dibalas kebisuan. Aku telah  berusaha sebaik mungkin menjaga apa-apa yang pernah kita semogakan berdua. Namun, aku merasa sendirian. Setelah kueja satu per satu rasa di depanmu, lalu kamu memilih diam. Aku bisa apa? Di dunia ini tak ada harapan yang mekar tanpa tindakan. Jangankan tanpa kepastian, kau bahkan membiarkan kita berdua terjebak dalam palung rasa yang kita sendiri ragu meyakininya. Apakah kesalahan jika pada akhirnya aku tak meyakinimu? Sementara dirimu yang semula membuka pintu keraguan itu untukku. Aku lelah dengan apa yang kujaga sendirian. Hari ini, tak ada lagi yang ingin kujelaskan padamu selain pembuktian bahwa kamu bukan satu-satunya alasan bagiku untuk tersenyum. Maaf, telah aku pilih nama lain yang bersamanya aku menemukan keyakinan.”

Patah. Gadisnya berlalu digamit sosok lain, dan itu bukan dirinya.

Daun-daun trembesi berguguran dari ranting. Angin bertiup kencang menerbangkan mereka beramai-ramai.

Laki-laki itu terlambat. Tiba-tiba saja dia merasa telah menjadi makhluk paling bodoh di dunia ini.

- Al Ghumaydha' -

3 komentar:

BERITA TERUPDATE