Update Terbaru ALG

Selasa, 13 Maret 2018

Ketika Rindu Berlari pada Puisi


Jika mengatakan padamu aku tak mampu. Biar puisi menjadi pelarian kata-kataku yang tertahan menyakitkan.

Suatu hari, kita dipertemukan oleh senja yang sedang merona. Berdua, kau dan aku tenggelam dalam percakapan rasa yang laut dan dalam. Kita berjalan melalui setapak kenangan. Saling bicara, sesekali diam dalam renung masing-masing.

Senja kian meredup, lalu benar-benar hilang direnggut malam. Kita berpisah, menjadi sepasang kekasih yang mencinta dari kejauhan. Tak ada kata-kata. Malam membungkam segala ungkapan hati.

Ada sesak yang ingin diteriakkan. Tentang bulir-bulir rindu yang menggerimis di jantungku. Hanya angin harapanku, kepada semilirnya aku titipkan salam padamu. Semoga kau mendengarnya.

Malam kian meninggi. Belum juga surut sendu yang memeluk kedalaman hati. Suaraku masih saja bisu untuk sekedar membisik kalimat rindu.

Aku ingin pelukmu yang dalam dan nyata. Namun, hanya malam tempat aku bercerita. Dalam kelam langitnya, temaram rembulan membingkai siluet senyummu. Indah dan menenangkan.

Telah cukup bagiku memilih diam. Tentang anak-anak rindu yang tengah aku asuh dalam buaian.

(alg)

7 komentar:

  1. Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung, semoga suka ^^

      Hapus
  2. Untaian kata memiliki kesan yang mendalam bagi penulis nya

    BalasHapus
  3. Apayang ditulis oleh penulis sedikitnya ada kisah penulis yang diselipkan,

    BalasHapus

BERITA TERUPDATE