Update Terbaru ALG

Senin, 11 Juni 2018

Suatu Hari Nanti

Oleh : Al Ghumaydha'

Ada yang berbeda dari hari-hari biasa. Beberapa sudut ruang penuh rangkaian bunga warna-warni. Kain-kain putih dan biru berseling menghias dinding ruangan. Sepi berubah menjadi kesibukan di sana-sini. Orang-orang berlalu lalang menyiapkan segala pernak-pernik.


Ada yang tak sama dari kebiasaan sehari-hari. Seraut wajah polos tanpa pensil alis, hari ini dihias lukisan warna-warna lembut. Lentik bulu mata hitam legam, menegaskan aura yang terpancar. Gaun putih berenda dengan beberapa manik mutiara kini aku kenakan. Kerudung lebar dibalut selendang panjang, juga mahkota kecil di atas kepala. Di depan cermin aku mematutkan diri, memandangi wajah sendiri.

Ada debar yang tak biasa. Dada bergemuruh seiring tapak kaki melangkah. Aku duduk melipat lutut dengan kepala terus menunduk. Aku memberanikan diri sedikit melirik wajah gugupmu. Peci putih di atas kepala, kemeja putih, dasi, juga jas putih yang kau kenakan sekarang sempurna mendebarkan dadaku dengan gagahmu.

Ada hati yang saat ini tengah susah payah membendung haru, sedih, sekaligus bahagia. Seraut wajah teduh itu tak mampu aku baca maknanya. Sementara, seraut wajah lain tampak tegas berhadapan denganmu. Entah, kini bagaimana perasaan mereka di ruangan yang akan menjadi saksi sejarah kita berdua.

Suhu udara dalam ruangan ini kian meninggi, seiring dengan gugup yang menguasai diri kita sendiri. Desir hati berpacu kian kencang. Ikrar pun diberlangsungkan. Kian dalam aku menundukkan kepala. Hanya dalam satu tarikan napas, dengan tegas dan lantang kau ucapkan ikrar pertalian sakral itu. Hamdalah bergema seiring air mata yang menderas tanpa kesepakatan sebelumnya.

Pemilik wajah teduh itu memelukku erat, aku balas lebih erat. Hanya lirih tangis tanpa kata-kata. Masih belum berpindah tempat, pemilik seraut wajah lain itu menunduk dalam dengan mata terpejam. Ayah, Ibu... aku tahu kalian susah payah membendung ketidakrelaan yang harus kalian relakan.

Semerbak mawar lekat menembus indra ciumku. Sebuah ruangan serba putih. Mata kita bertemu tatap. Saling pandang, lama dan dalam. Aku kira, aku belum bangun dari tidur. Rasanya seperti mimpi. Hari ini jemari kekar seseorang secara sakral menarikku—dalam dekapnya, hidupnya, tanggung jawabnya. Kini baktiku seutuhnya kepada dia, selamanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERITA TERUPDATE