Update Terbaru ALG

Senin, 02 Juli 2018

Beku Diranggas Jarak dan Waktu


Oleh : Al Ghumaydha'


Kau akan sampai pada suatu hari dimana hatimu tidak lagi merasakan apa-apa. Sesak yang tertumpuk membuat hatimu mati rasa atas apa-apa tentang dia. Seperti pada suatu sore ketika kau dalam perjalanan pulang. Kau ingin melepas penat sebentar dengan mampir di sebuah kedai sederhana. Tiba-tiba saja dia muncul di hadapanmu.

“Hai.”

Kau terkelu bisu tiga detik sebelum benar-benar sadar untuk membalas sapaannya. Dia menarik kursi duduk di depanmu. Kalian berdua dalam satu meja saling berhadapan. Sorot senja yang jingga mewarnai kota. Persis ketika pertama kau dan dia saling mengungkap rasa. Hati berbuncah bagai kembang api meletup-letup indah pada kelam langit malam. Kini, kau tak lagi mendapati perasaan semacam itu di hatimu.

“Kau masih suka latte rupanya.”

Kau jawab hanya dengan senyum. Dia berusaha mengajakmu bicara. Seolah tak ada apapun yang terjadi. Kau temukan dari matanya, bahwa bagi dia semua baik-baik saja. Meski berlalu tepat dua bulan kalian tak saling bicara tanpa penjelasan apa-apa. Susah payah kau berusaha mengumpulkan sisa kenangan. Kau paksa hatimu menghadirkan rindu yang pernah berkembang liar. Dan kau menyerah.

Benar-benar habis sudah rasamu diranggas jarak dan waktu. Tidak lagi debar itu hadir untuk seseorang di hadapanmu. Segala yang ada dalam hatimu untuk dia telah menguap dipanggang luka. Kini tak menyisakan apa-apa selain hampa.

Jingga kian berkelabu. Cangkir latte milikmu belum benar-benar habis. Kau permisi pulang. Menolak baik-baik tawaran darinya untuk mengantarkanmu. Tidak peduli seberapa dalam luka yang kau terima, kau harus tangguh berdiri di atas kakimu sendiri. Hatimu berhak bahagia. Sebab, hidupmu  tidak cukup hanya untuk menyenangkan dia.

Sepasang mata memperhatikanmu dari jauh. Kau terus menyisir trotoar tepi jalan itu. Selamat merayakan bahagia!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERITA TERUPDATE