Update Terbaru ALG

Rabu, 04 Juli 2018

Berhenti Depresi Alay!


Oleh : Al Ghumaydha'

Dear, temen-temen pejuang SBMPTN...

Tahun 2016 lalu, saya ada di posisi kalian. Ikut SBMPTN dan gagal. Nangis? Enggak. Beneran. Ga ada nangis sama sekali. Tapi, malemnya baru ngerasain nyesek soalnya tau ‘saingan’ saya lolos. Di situlah baru nangis. Trus depresi alay gitu. Rasanya di dunia ini cuma saya satu-satunya orang paling menyedihkan, butuh dikasihani, dan amat sangat malang ketika itu. Alay, kan?

Tapi setelah itu langsung move up. Lalu saya daftar jalur mandiri di 2 PTN. Salah satunya saya menggunakan seleksi prestasi dengan mengirimkan 10 sertifikat penghargaan. Gagal keduanya. Sudah cukup, capek nangis. Ga ada acara nangis, energi udah habis untuk melakukan kesia-siaan itu. Meski demikian sedih tetap ada, nyesek masih bergelayut.

Berikutnya saya menjalani aktivitas seperti biasa. Berkutat dengan kain flanel melayani pesanan-pesanan customer. Setidaknya itu bisa mengalihkan ‘depresi alay’ saya. Beberapa hari kemudian saya mendaftar jadi peserta Kelas Mendongeng di sebuah komunitas dongeng. Pokoknya saya cari kesibukan berfaedah yang sesuai dengan minat ketika itu. Sebelum dinyatakan lolos, masih ada seleksi untuk mengikuti Kelas Dongeng tadi. Di sela penantian menunggu pengumuman, qadarullah saya mendapat tawaran untuk mendaftar kuliah dengan beasiswa penuh.

Saya tidak terkejut dengan tawaran beasiswa ini karena 5 bulan sebelumnya sudah mendapat tawaran itu. Namun, saya dengan angkuh menolaknya. Saya katakan tidak mau. Saya tidak mau keluar Jawa, saya tekankan bahwa saya yakin bisa lolos di tempat yang saya inginkan. Betapa sombong, kan? Bahkan perkara jurusan, saya lebih sombong lagi. Seorang keras kepala seperti saya tidak mau kalau tidak kuliah di jurusan A. Harus jurusan A. Setiap mengikuti seleksi masuk PTN saya tidak mau mengambil cadangan jurusan lain. Itulah saya. Saya hanya akan melakukan dan menjalani apa yang saya sukai. Jika tidak, bagi saya itu hanya kesia-siaan saja. Daripada berhenti di tengah jalan, kan?

Setelah ditolak berkali-kali, hati dan kepala saya mulai lunak ketika mendapat tawaran beasiswa yang ‘kedua’ ini. Tawaran beasiswa penuh ini telah datang 2x untuk saya. Apakah saya akan tetap keras kepala? Tidakkah saya kasihan dengan kedua orang tua yang menaruh harapan besar pada saya? Satu malam penuh saya berdiskusi dengan Allah dan mengambil keputusan besar.

Saya pun mendaftar kuliah, setelahnya saya menerima pengumuman bahwa saya lolos mengikuti Kelas Dongeng. Beberapa hari kemudian saya mendapat kabar lulus masuk kuliah dengan beasiswa penuh itu. Allah!

Waktu begitu sempit. Semua urusan harus saya selesaikan dengan cepat dalam waktu singkat. Kebetulan pesanan craft sedang ramai, langsung saya close order bahkan cancel beberapa pesanan. Lalu buru-buru saya ke Jogja untuk mengikuti Kelas Dongeng. Di sana saya mendapat pengalaman luar biasa dan cukup berkesan. Pulang dari Jogja langsung packing dan berangkat ke kota perantauan.



Setelah menjalani ‘pilihan Allah’, puji syukur saya panjatkan berkali-kali tiada henti. Allah menempatkan saya di jurusan yang sangat ‘pas’ dengan passion saya. Allah memberi saya beasiswa penuh. Allah memberi saya kesempatan untuk belajar tangguh dan mandiri. Allah memberi peluang besar untuk saya berbisnis. Allah pun memberi kesempatan bagi saya satu langkah lebih maju dibanding teman-teman saya. Sejak semester 4 saya sudah menghasilkan pundi-pundi rupiah sendiri dengan nominal yang sangat cukup bagi mahasiswa.

Gimana? Keliatan enak banget ya baca tulisan ini, hehe..

Tidak ada rahasia besar bagaimana saya bisa mendapat bertubi kebaikan dari Allah. Sangat sederhana. Poin pertama adalah do’a Ibu. Kalian tahu? Setiap malam Umi saya selalu meminta kepada Allah agar diberi kemudahan dalam menyekolahkan putrinya. Jujur saja, saya hanya gadis biasa dengan latar belakang keluarga dari ekonomi menengah ke bawah. Umi tidak pernah lelah merayu Allah agar saya bisa kuliah dengan beasiswa.

Apabila saya lolos melalui jalur SBMPTN atau mandiri di PTN, apakah sudah tentu dapat beasiswa full? Saya bukan seseorang yang pintar atau cerdas. Nilai fisika dapat 6 saja sudah termasuk prestasi unggul bagi saya. Itulah kenapa saya mengambil jurusan yang benar-benar sesuai dengan passion saya. Pada akhirnya, saya tahu kenapa Allah memberi kegagalan berkali-kali kepada saya setiap seleksi masuk. Allah bermaksud mengabulkan do’a Umi saya dengan memberi beasiswa penuh di tempat lain.

Allah (lebih) tahu apa yang terbaik untuk diri saya jauh daripada diri saya sendiri.

Satu hal lagi. Pada akhirnya saya menjalani kuliah di jurusan ‘lain’. Bukan jurusan yang saya impikan. Bukan jurusan yang setengah hidup saya perjuangkan. Tapi, sekali lagi saya katakan bahwa Allah lebih tahu. Jurusan ‘lain’ ini jauh lebih ‘pas’ dengan ‘passion’ saya dibanding jurusan yang saya ‘perjuangkan’.

Hanya saja, meskipun jurusan yang saya ‘jalani’ akhirnya berbeda dari yang saya ‘inginkan’ ada satu catatan penting. Sebelum memilihnya saya juga melakukan banyak pertimbangan, terutama menyesuaikan dengan ‘passion’ saya. Jadi, temen-temen... jalani apa yang kamu sukai. Jangan memaksakan diri jika pada akhirnya kalian menjalani itu dengan penuh tekanan. Pilih jurusan yang benar-benar ‘sesuai’ dengan ‘dirimu’.

Itu sedikit kenangan sederhana saya. Poin yang bisa temen-temen ambil adalah ; ada rencana Allah yang lebih indah untuk masa depan di balik kegagalan kita hari ini. Ini adalah kata-kata bijak klise dan membosankan, memang. Tapi, saya sudah membuktikannya. Sekarang giliran teman-teman membuktikannya.

Satu lagi. Berbakti pada orang tua. Do’a orang tua adalah kekuatan yang berpengaruh besar dalam hidup kita, percayalah!

Saya malas terlalu banyak basa-basi memberi semangat untuk temen-temen. Saya tau temen-temen sudah muak dan bosan dengan kata-kata motivasi dan semangat. Saya paham. Saya pernah di posisi kalian. Tapi, saya hanya ingin memberi tahu teman-teman bahwa semakin jauh kalian terpuruk tidak akan menyelesaikan apa-apa. Kalian kira dunia peduli? Kalian merasa paling menyedihkan? Berhenti alay, masih banyak yang lebih ‘kurang’ beruntung dibanding kita.

Apakah setelah membaca ini kalian berpikir, “Kamu mah enak ngomong doang, ga ngerasain susahnya kita udah lembur belajar tiap malem.. blablabla...”? Sekali lagi, saya menulis ini setelah menjalani apa yang kalian rasakan hari ini.

Begitulah. Sekian, terima kasih, dan mohon maaf.
Selamat move up! Selamat menyusun planning masa depan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERITA TERUPDATE