Update Terbaru ALG

Rabu, 25 Juli 2018

Diam Antara Kita

Oleh : Al Ghumaydha'

Saat ini biru langit kian memudar jadi jingga. Aku berjalan di trotoar tepi jalan. Menyisir sore yang selalu kita puisikan. Aku melihat etalase toko penuh arloji, benda yang kau suka. Aku pun tersenyum mengingatmu.

“Benda apa yang kau suka?”
“Mmm, buku.”
“Oh ya?”
“Aku suka pergi ke toko buku.”
“Mau pergi denganku kapan-kapan?”
“Boleh.” Aku menjawab dengan tersipu. “Bagaimana denganmu?”
“Apa?”
“Benda favoritmu.”
“Oh, semua laki-laki menyukai ini.” Kau menunjuk sesuatu yang melingkar di pergelangan tangan kirimu. “Terlihat keren dan bergaya.” lanjutmu memberi alasan sebelum kutanya.

Ah, kau. Apa kabar? Beberapa hari ini kita tak saling bertukar sapa. Meski sekedar pesan singkat tak juga singgah beberapa kata saja. Begitulah kita, lebih suka diam dan saling memendam. Tak banyak kata-kata, hanya menerka-nerka. Persis seperti saat ini ketika isi kepalaku penuh tanya tentang hening di antara kita.

Adakah puisi-puisimu selama ini sekedar gurauan? Sedang aku sungguh-sungguh membaca penuh debar. Aku belum juga meretas dari segala terka tentang isi hatimu. Sebab kita selalu seperti ini. Kau bertamu menghadiahkan puisi, aku menyambut sepenuh hati. Esok hari kau diam, dan aku sekedar melihatmu dari kejauhan. Anehnya, aku tak pernah menyerah dengan hubungan abu-abu semacam ini. Sampai pada saat dimana aku lelah dengan perasaanku, aku beranikan melontarkan sebentuk tanya.

“Aku merindukanmu, apakah aku hanya sendirian?”
“Tidak.”

Sebatas itu sudah cukup mendebarkan dadaku. Dan saat ini ingin sekali aku mengulang pertanyaan itu padamu. Meski aku tahu kau pun akan memberi jawaban sama. Selalu saja perempuan ingin penjelasan dan diyakinkan. Namun, rupanya egoku lebih menang daripada rasa ingin tahuku.


Setelah memandangi etalase yang penuh berisi barang kesukaanmu, aku melanjutkan langkah. Kakiku ringan menapaki sepanjang jalan trotoar. Mendadak berhenti. Tak jauh, selisih beberapa meter saja dari tempatku berdiri. Kedua bola mataku tak salah menangkap sosokmu tengah bertemu tatap dengan seseorang. Entah siapa.

Entah juga dengan perasaanku tiba-tiba. Ada sesuatu yang ingin meluap namun tertahan. Aku siapa? Seperti saat yang telah berlalu, lagi-lagi aku memilih menekan perasaan. Berlalu melanjutkan langkah tanpa peduli. Kau bukan siapa-siapa, pun aku bukan siapa-siapa dalam hidupmu. Cemburu ini tak semestinya pantas aku pelihara. Bukankah puisimu milik siapa saja?

Aku terus berjalan hingga melewatimu. Entah, mungkin kau melihatku. Beberapa detik kemudian aku rasakan derap lain menyusul di belakangku. Aku tak peduli sampai satu suara menghentikan langkah kakiku.

“Ini salah paham.”
“Apa?”
“Itu sudah berlalu.”
“Iya.”
“Kau mau kemana?”
“Mungkin aku sedang merindu sendirian.”
“Tidak. Kita merasakan hal yang sama.”

Lalu daun-daun bertebaran diterbangkan angin sore. Jingga kian pekat di langit sana. Rasanya pipiku menghangat, bahagia.

2 komentar:

BERITA TERUPDATE