Update Terbaru ALG

Sabtu, 07 Juli 2018

Kenapa Menulis? (Q&A Part 1)

Oleh : Al Ghumaydha'


Bismillah... aku mencoba jawab pertanyaan yang sering masuk dari temen-temen. Sebelumnya mohon maaf atas penjelasanku yang belepotan. Nanti seluruh pertanyaan yang ada akan aku bagi dalam beberapa part untuk kujawab seperti ini. Kali ini merupakan part pertama. Selamat membaca~


Kapan mulai menulis?

Kapan ya? Sebenernya aku ga bener-bener inget sih mulai (suka) nulis sejak kapan. Tapi, dulu pas kelas 1 SD udah sering coret-coret puisi gitu. Biasa, puisi alaala anak-anak haha. Kalo baca lagi pasti geli bawaannya. Trus pas kelas 4 SD sekolah buka program ekstrakurikuler, Umi mengarahkan ikut beberapa ekstra salah satunya jurnalistik. Nah, di sinilah minat menulis mulai tumbuh. Bermula dari kelas 4 SD itu, berikutnya pas kelas 5 sampai 6 SD bener-bener sadar kalo menulis adalah hobiku. Tapi sebelum kelas 4 SD udah sering bikin puisi kok.

 Jadi, terjawab ya aku suka nulis dari kecil tepatnya sejak kelas 1 SD (umur 7 tahun). Kalo suka atau minat nulis tumbuh pas kels 4 SD (umur 10 tahun). Memasuki tahun-tahun berikutnya dibarengi dengan suka baca buku, minat menulis makin deras. Aku pun sering aktif di kegiatan jurnalistik. Pas kelas 5 SD pernah jadi ketua mading sekolah.

Tentang bagaimana bisa aku suka baca buku (biasa aja sih, ga suka-suka banget juga) dan perjalanan pengalaman menulisku mungkin aku bahas di judul lain aja ya nanti.

Kenapa menulis?

Emm.. dulu sih, suka aja. Pokoknya asal suka aja. Gatau deh alasannya. Bukankah memang demikian? Terkadang seseorang tak membutuhkan alasan untuk menyukai sesuatu. Kalian boleh tidak setuju, bebas. Tapi aku yakin beberapa orang akan menyetujuinya.

Begitulah, semula ketika suka menulis aku tidak punya banyak alasan. Rasanya bahagia saja dengan menulis. Maydha kecil seperti memiliki dunia sendiri dengan imajinasinya. Mungkin karena menulis udah bawaan lahir mengalir dalam darahku juga yak (halah alay wkwk), jadi aku terus menekuni hobi itu melalui lomba maupun organisasi jurnalistik. Di luar itu sehari-hari juga meluangkan waktu untuk menulis. Lalu sering berinteraksi dan berdiskusi dengan teman-teman yang memiliki minat sama. Pada akhirnya menulis berubah jadi kebutuhan.

Setelah banyak hal aku lalui dalam dunia kepenulisan (beranjak dewasa), baru aku menemukan alasan yang lebih menguatkan selain karena sekedar suka. Ini bukan sekedar teori, tapi berdasar apa yang sudah aku alami.

Pertama, menulis bisa menjelaskan hal-hal yang tidak mampu diungkapkan. Eaaaaaak. Ini sih berlaku buat yang ga pinter ngomong atau mereka yang introvert, cocok banget. Kalo aku pribadi urusan public speaking sebenernya ga ada masalah. Kepribadianku juga extrovert, terbuka pada orang lain. Hanya saja, beberapa hal aku lebih suka menyimpannya sendiri. Berangkat dari itu, maka aku menulis sebagai tempat pelarian uneg-uneg wkwkw.

Kedua, menulis adalah cara paling sederhana dalam menyampaikan kebaikan yang tidak pernah putus. Pernah kan aku nulis yang sifatnya inspiratif gitu, trus pembaca jadi semangat setelah baca tulisanku. Lama waktu berlalu eh masih ada yang baca ulang tulisan itu. Nah, aku mikir coba kalau kelak aku udah meninggal dan tulisanku masih dibaca orang. Ma sya Allah banget udah meninggal kebaikan masih ngalir. Jadi, bisa dikatakan menulis itu investasi akhirat.

Ketiga, menulis bikin aku punya banyaaaak temen dimana-mana. Yaps, nulis itu nambah relasi. Gara-gara nulis aku punya kenalan dari banyak kota ; Riau, Medan, Banyumas, Indramayu, Tangerang, Kebumen, Solo, Bandung, Surabaya, Gresik, Batam, sisanya mana lagi lupa. Aku kenal mereka karena sering share tulisan dan mereka baca tulisanku trus kita kenalan deh. Kalo pengen main ke kota itu trus butuh guide atau tumpangan tidur kan enak hahaha.

Keempat, menulis itu meningkatkan kualitas branding diri. Nah, untuk bisa merasakan ini butuh proses dan ga bisa instan. Ini sih aku rasain sejak nerbitin buku. Setelah aku punya buku solo, di saat itu orang-orang mulai melihat dan menghargaiku. Sebenernya tulisan dan pengalamanku masih jauhhhhhhh sangat kurang. Tapi hanya karena aku sudah punya buku bisa dapat kepercayaan buat jadi pembicara di kelas menulis ‘kecil-kecilan’ gitu. Pokoknya menulis bikin kita keliatan ‘keren’ di mata orang. Meski aslinya sangat biasa-biasa saja. Eh, tapi ini sih aku. Kalo penulis sekaliber Kang Abik, Bunda Asma, HTR, Dee, Tere Liye, dll jelas keren luar dalaaaam.

Kelima, menulis membuat kita merasakan jadi ‘siapa saja’. Kalo nulis cerita pasti ada tokoh kan. Nah, tokoh kita pasti beragam karakter dan latar belakang. Bisa saja tokoh utama kita dosen, petani, anak sekolah, pegawai, atau apapun. Untuk bisa menghidupkan cerita pasti kita harus memahami seluk beluk tentang latar belakang itu, bahkan kita mempelajari apa yang mereka jalani sehari-hari. Jadilah kita punya banyak wawasan juga bonusnya, hehe.

Oke, sementara segitu dulu jawaban tentang alasan aku menulis. Sebenernya masih ada tapi berceceran ga jelas di kepala. Kapan-kapan aku update ya.

Belajar menulis darimana?
Inspirasi tulisan darimana?
Nah, dua pertanyaan selanjutnya ini akan aku jawab di part kedua.

Siapa motivator dalam menulis?
Genre yang diseriusin apa?
Lalu dua pertanyaan terakhir aku jawab di part ketiga.

Sekian dulu, nantikan part berikutnya ya :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERITA TERUPDATE