Update Terbaru ALG

Sabtu, 06 Oktober 2018

Mengenang Adalah Menyenangkan

Rintik jatuh kecil-kecil. Mengembun pada daun. Membasah tanah cokelat. Meniupkan gigil. Membangkitkan segala ingatan perihal kita. Ketika tak sengaja kau dan aku bersimpangan di belokan jalan itu pada suatu sore selepas hujan jatuh. Di parit kecil tak jauh dari sana, kita sering mengapungkan perahu kertas berisi doa-doa perihal masa depan.


Saat rindu padamu begitu erat memeluk dalam sepi, baris-baris puisi tentangmu lahir dari tinta penaku. Kemudian kita bertemu, dan kau tersenyum membaca tulisanku. Malam merangkak kian kelam. Kau sengaja mengirimkan lagu tentang kita setiap akan tidur. Kau dan aku pun sama-sama mendengarkannya. Lalu kita sepakat memejamkan mata pada detik yang sama.

Hari ini segalanya tinggal kisah purba dalam album kenangan. Harum hujan bulan Desember selalu saja menyibak slide-slide episode di masa itu. Semula terasa sulit ketika aku tapaki hari-hari dengan kakiku sendiri. Aku pernah menjadi bodoh dengan meloloskan jutaan tetes air mata begitu saja setiap malam. Sedang di kejauhan sana aku tak pernah tahu adakah masih kauingat segala cerita yang pernah kita renda berdua.

Desember berlalu menuju Desember berikutnya. Pada akhirnya hatiku terlatih, waktu membimbingku untuk mengikhlaskanmu. Dahulu, ingatan tentangmu selalu saja mengundang nyeri di ulu hatiku. Kini, sekali waktu mengenangmu adalah hal menyenangkan. Derai anak sungai di pipi berganti lengkung pelangi di bibir.

Tiada lagi luka dan pengharapan. Cukup tersisa lembar-lembar kenangan yang tak perlu dipersalahkan. Terima kasih pernah menjadi puisiku meski kini tak lagi utuh. Selamat berdamai dengan segala kenang antara kau dan aku.

Oleh : Al Ghumaydha'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERITA TERUPDATE