Update Terbaru ALG

Minggu, 18 November 2018

Kita Adalah Puisi

Oleh : Al Ghumaydha'

Sekali waktu aku ingin mengajakmu pergi. Berjalan-jalan menyusuri kilas balik waktu. Dimana kali pertama kau dan aku bertemu. Sampai kemudian berlalu hari-hari penuh bunga warna-warni saat kita bersama. Indah. Satu kata yang merangkum perjalanan dua sejoli dimabuk madu asmara.

Adalah sebuah ketidaksengajaan kita sering bertukar puisi. Perihal himpunan rindu yang meminta rumah untuk pulang. Yang kau sampaikan dari hatimu terbang dan hinggap di ranting hatiku. Lama dia berdiam, lalu bertunas menjelma sebentuk rasa yang rimbun.

Masih terpahat dalam relief ingatanku. Senyum gusarmu di hari keempat puluh perjumpaan kita. Ketika bibir-bibir puisimu mencium hangat secangkir diksi puisiku. Tak pernah ada kata. Hanya hati yang saling bicara. Cukup menjelaskan bahwa rindu telah menemukan rumahnya.

Sejak menemukan matamu, diksi tak lagi liar di dalam kepalaku. Sebab segala kata-kata indah telah dilukiskan oleh apa-apa yang ada padamu. Kau adalah puisi terindah yang dianugerahkan Sang Maha Cinta dalam napas hidupku.

Adakah yang lebih kurindukan selain suaramu di hening malam? Pelukmu adalah tempat pertama bagiku melarungkan air mata. Lantas, untuk apa aku mencari hati yang lain? Jika hanya bersamamu cukup menjawab seluruh tanya perihal cinta.


Katamu, kau menyukaiku seperti kau mengagumi hujan. Jatuh meneduhkan dalam rimbun kesunyian. Hadir meramaikan hati-hati yang menghuni sepi. Katamu juga, kita ini seromantis senja. Sejauh apapun pergi, tak akan lupa untuk kembali.

Bertahanlah seperti ini, Kasih. Kau jadi puisiku. Aku jadi puisimu. Kita—satu puisi untuk selamanya.

4 komentar:

BERITA TERUPDATE