Update Terbaru ALG

Rabu, 05 Desember 2018

Episode Tujuh Purnama

Oleh : Al Ghumaydha'

Tujuh purnama telah berlalu. Aku melepas sendu. Sore itu di bawah gerimis berlari meninggalkanmu. Satu hati yang tak perlu lagi kuberi tempat. Sebab perjalanan selalu saja menuai luka. Aku tertatih, susah payah melangkah sendirian. Air mata kering di pipiku.

Aku pergi. Meninggalkan kota dengan segala kenang antara kita. Pertemuan pertama di bus kota. Pertemuan kedua di perpustakaan. Saling bertukar cerita sampai pada pertemuan-pertemuan yang melahirkan debar pada akhirnya.

Setiap orang memiliki caranya masing-masing. Mungkin apa yang aku lakukan terlalu kekanakan. Namun, memilih tetap tinggal di kota itu sama saja menelan racun yang akan membunuh sedikit demi sedikit syaraf di tubuhku. Sebab itulah aku menjauh.


Di kota ini aku memulai segalanya kembali. Menata kisahku sejak awal—tanpa kamu. Mengakrabi pagi tanpa sapa hangatmu. Meminum secangkir latte hanya berteman buku. Tak ada lagi canda tawa yang lepas antara kita. Aku menyibukkan diri. Pergi ke perpustakaan, memperbanyak target bacaanku, menambah target menulis, juga pergi ke tepian kota. Di sana aku bertemu anak-anak—lepas menceritakan dongeng-dongeng kehidupan. Mereka tertawa bahagia dan aku tidak lagi menemukan alasan untuk mengurai air mata.

Akhir-akhir ini aku sungguh menjadi diri sendiri. Menjalani hari penuh optimis dan rasa ceria. Telah lesap segala rasa sakit perihal ingatan tentangmu. Sampai hari ini hujan jatuh di kotaku. Aku memutuskan berdiam di kamar. Hujan, buku, dan secangkir kopi. Apa lagi yang lebih menyenangkan dari itu? Sampai di halaman keduapuluh, suara ketuk pintu membuyarkan imajinasiku.

 “Hai, apa kabar?”

Aku kelu. Ada gelenyar aneh di tubuh. Untuk beberapa detik terpaku. Sepasang bola mataku menangkap sosok dirimu di mulut pintu. Di luar sana hujan mereda jadi gerimis. Kau dan aku telah duduk bersisian di teras rumah. Asap mengepul dari cangkir teh hangatmu di atas meja yang membatasi jarak antara kita.

“Ada apa?” tanyaku singkat.
“Tidak ada.”

Hening menguasai detik-detik yang berlalu. Tak ada suara selain daun yang dipukul sisa air hujan. Gemericik menenangkan.

“Baiklah, aku pamit.” katamu.
“Minum dulu tehmu.”
“Terima kasih. Tapi aku lebih suka menikmati latte berdua denganmu sambil mendiskusikan buku yang baru selesai kita baca.”
“Simpan saja rencana itu. Aku sangat sibuk.”

Kau pun berlalu. Hujan menderas kembali. Rintiknya jadi melodi paling sendu sepanjang sejarah. Aku berlari mencari sudut ruang. Gerimis di mataku jatuh. Sungguh, apakah kau kira perasaan ini sebercanda itu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERITA TERUPDATE