Update Terbaru ALG

Minggu, 16 Desember 2018

Membangun Bahagia

Oleh : Al Ghumaydha'

Hari ini senja sedang rona-ronanya di petala langit sana. Jingganya membingkai siluet wajahmu yang dilukis oleh ingatanku. Tanpamu saja senja seindah ini, bahkan jika ada kamu di sini mungkin aku akan gagal mempuisikannya berkali-kali.

Di kotaku hujan baru selesai turun. Harumnya masih semerbak menenangkan. Pun selalu saja, hujan menerbangkan ingatanku pada luka masa lalu. Memaksa diriku menyibak kembali slide-slide episode yang telah kupendam rapat. Ngilu itu sesekali masih basah di ulu hati. Namun ajaibnya, hanya dengan mengingat namamu segala sendu luruh dari kepalaku.

Adalah kamu. Satu nama yang jadi penawar luka. Aku masih ingat pada suatu hari kau katakan akan merima seluruh masa laluku. Bahwa bagimu memiliki kesempatan mencintaiku adalah sebuah usaha mempertemukan kelebihanmu dan kekuranganku. Kita akan jadi satu paket lengkap katamu. Tentu saja. Kau tak pernah memprotes cerobohku. Kau selalu saja memahami keras kepalaku. Kau menekan ego demi mengalah dari egoisku. Kau tetap menjaga sabar meski manja dan marahku selalu mengujimu. Ah, aku tak punya alasan untuk melepaskan sosokmu.

Aku masih asyik memandang langit. Tenggelam dalam khayal perihal hari-hari yang akan kita lalui berdua suatu hari nanti. Kita akan menghabiskan hari  di dunia yang sama-sama kita suka. Menemui malam dengan cerita tentang buku yang selesai kita baca.

Meski belum tahu tapi aku yakin kau akan suka dengan kopi dan kue buatanku. Lalu kita akan menikmatinya berdua di beranda rumah sembari menghitung bintang yang bergelantungan. Sesekali kita akan pergi menyisir kota. Kau menggandengku ke suatu tempat yang belum pernah aku lihat dan aku kegirangan seperti anak kecil.


Oh iya, kita juga akan pergi ke pantai. Berdua kau dan aku bertelanjang kaki memijak milyaran pasir putih. Kita berkejaran, bermain bintang laut, juga membidik banyak frame kenangan dengan ingatan masing-masing. Lalu kita kelelahan hingga senja tiba. Kau dan aku duduk bersisian dengan kepalaku bersandar di pundakmu. Pelan-pelan kau melingkarkan lenganmu di bahuku.

Benar. Kau akan membawaku berdiri dari kubang suram masa lalu. Bersamamu air mata luka jadi binar senyum bahagia. Akan kita sulam mahligai cinta. Kau rumahku, aku rumahmu. Kelak tiba suatu hari kau membimbingku. Menerima tulus segala kurang dan masa laluku. Lalu kita membangun bahagia pada akhirnya.

8 komentar:

  1. Sudah kukatakan. Semua tukisanmu sempurna membius khayalanku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang penting dosis biusnya tidak melebihi saran dokter

      Hapus
  2. Nice, saya suka baca tulisanmu..semangat berkarya Ghumaydha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak apresiasinya, Ka Karman. Semoga tidak mengecewakan pembaca :)

      Hapus
  3. Selalu suka tulisan-tulisan di sini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaahh makasiihh sudah berkunjung 😍
      Salam kenal ya 😊

      Hapus

BERITA TERUPDATE