Update Terbaru ALG

Selasa, 25 Desember 2018

Menjadi Minoritas


Bismillahirrohmanirrohiim...

Tulisan ini adalah bentuk kesedihan saya. Sebuah curahan atas keresahan hati saya. Beberapa atau banyak orang boleh tak sepakat. Mungkin ada yang tidak setuju, mencela, mencemooh, mengucilkan, memojokkan, atau semacamnya. Tak masalah. Bebas. Saya pun tak akan membalas apapun komentar kalian setelah membaca ini.

Sejak kecil saya selalu menjadi minoritas di antara teman-teman saya. Saya mengenyam pendidikan di sekolah umum. Ketika kelas 3 SD sudah memutuskan untuk berkerudung, saya menjadi pusat perhatian. Saat itu tahun 2006 di mana kerudung masih belum marak seperti era saat ini. Di Sekolah Dasar tempat saya belajar ketika itu hanya saya satu-satunya murid yang mengenakan kerudung. Hari pertama semua mata di sekolah tertuju kepada saya. Tidak peduli apakah itu guru atau siswa. Setiap saya lewat, mereka melihat saya. Seolah saya adalah makhluk asing atau semacam alien yang sangat menarik untuk dijadikan bahan tontonan. Tatapan mereka mengintimidasi, menyelidik, begitu ingin tahu. Ketika itu umur saya menginjak 9 tahun. Ah, benar-benar butuh rasa percaya diri yang tinggi bagi seorang anak kecil ketika dia menjadi minoritas di tengah kalangan luas.

Setelah satu tahun menjadi satu-satunya siswi berkerudung, rasa minder tidak hilang begitu saja dari dalam diri saya. Suatu hari ketika saya terpilih mewakili sekolah untuk lomba di kabupaten, dengan polos saya bertanya kepada guru saya, “Pak, tapi saya pakai kerudung. Apakah tidak apa-apa?”. Lugu sekali pertanyaan saya. Seperti biasa, guru saya satu ini menjawab dengan pengetahuannya yang serba luas itu sampai menceritakan sebuah kisah motivasi yang membuat saya kembali percaya diri. Pernah juga saat kelas 6 SD saya akan dipilih bergabung mengikuti lomba paduan suara. Tapi saya diminta lepas kerudung. Telak saja saya menolak.

Waktu berlalu. Dua tahun kemudian sekolah saya memberlakukan seragam baru. Ada seragam berlengan panjang sekaligus kerudung bagi siswa perempuan yang ingin berkerudung seperti saya. Alhamdulillah ... saya tidak sendiri lagi. Namun, apakah sudah selesai? 

Tidak. Berikutnya dari fase anak-anak kami menginjak fase remaja. Di sinilah beratnya semakin terasa. Kalian semua tahu fase remaja adalah di mana anak-anak mulai mengenal pacaran, mereka mencari jati diri, juga gaya pergaulan yang bebas. Duduk di bangku SMP ketangguhan hati saya diuji. Saya punya banyak teman baik. Kami selalu berbagi, bercerita, belajar bersama, selalu nyambung ngobrol ke sana-sini. Tapi beberapa di antara mereka sering mengadukan gaya pacarannya kepada saya. Bahkan sampai bagaimana dia sering diajak berciuman dengan pacarnya. Naudzubillah... Demi Allah saya sedih. Ketika itu saya berusia 13 tahun, saya benar-benar merasa sendiri. Saya merasa gagal merangkul mereka. Seiring berlalunya waktu, hati saya lebih dipatahkan. Beberapa teman dekat yang selama ini saya kenal polos dan tidak neko-neko pada akhirnya terjerembab juga dalam budaya pacaran. Ya Allah ... di sekolah rasanya saya tidak punya teman di jalan ini. Benar-benar sendiri.

Jenjang berikutnya memasuki bangku SMA. Alhamdulillah di tempat ini ada Rohis. Melalui Rohis saya dipertemukan dengan banyak teman yang memiliki visi misi di jalan yang sama, jalan Allah. Saya tidak sendiri lagi menjalani identitas saya sebagai muslimah. Tapi apakah sudah selesai cerita saya sebagai minoritas? Belum.

Di kelas saya, hanya 3 orang yang terhitung aktif di Rohis. Kami bertiga berkerudung lebar. Kami bertiga selalu terlihat berbeda. Kami bertiga adalah minoritas. Kami bertiga selalu tak nyaman dengan beberapa hal (tidak semuanya) terkait pemahaman anak-anak di kelas. Kami selalu dipandang fanatik, padahal hanya bermaksud meluruskan yang benar. Pernah suatu ketika, saya terlibat pertengkaran dengan seorang teman laki-laki di kelas. Hanya karena saya ingin meluruskan apa yang memang seharusnya diluruskan, dia tak suka sampai menyebut saya “perempuan tidak laku”. Hati saya tersayat, nyeri.

Meski demikian saya tetap berusaha berbaur bersama teman-teman saya dengan harapan bisa merangkul mereka. Nyatanya memang tak mudah. Tapi, saya amat sangat senang sekali. Selepas SMA ada seorang teman sekelas yang alhamdulillah memutuskan hijrah. Dia banyak menghubungi saya untuk konsultasi seputar perdebatan batinnya. Dia yang dulunya hanya memakai paris sampir dan celana jeans, alhamdulillah sekarang berhijab syar’i anggun sekali. Memang hanya Allah yang mampu membolak-balikkan hati. Hanya Allah yang bisa menurunkan hidayah untuk setiap jiwa.

Sampai hari ini (setelah jadi alumni SMA), ternyata saya dan 2 teman saya yang berkerudung lebar tadi masih tetap menjadi minoritas di kelas. Ketika kami mengingatkan perihal apa yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam kepada teman-teman lama kami—yang katanya ber-KTP islam—tetap saja kami dikomentari “Garis Keras”. Ah, betapa menyedihkan. Memprihatinkan sekali kondisi hati-hati ini.

Padahal kita tahu akhir-akhir ini bencana sering terjadi. Jika kita mau sedikit saja membuka hati dan pikiran, semua ini adalah bentuk teguran dari Allah. Lantas kenapa hati-hati ini masih saja membatu untuk menerima segala yang benar?

Tulisan ini lahir bukan berarti saya merasa paling benar atau sudah baik. Tulisan ini hanya curahan hati. Betapa saya sedih—dunia ini sudah tua tapi masih saja perihal menerima kebenaran hati kita belum terbuka.

Mohon maaf lahir batin kepada siapa pun yang tak berkenan. Semoga kita semua senantiasa terjaga dalam kebaikan.

4 komentar:

BERITA TERUPDATE