Update Terbaru ALG

Minggu, 23 Desember 2018

Terjebak Sipu


Oleh : Al Ghumaydha'

Kita terjebak dalam situasi tanpa nama. Meski begitu kita sama-sama menikmatinya. Kau selalu bisu di balik simpul senyum teduh. Aku memilih diam menyimpan seluruh rasa. Namun, kau dan aku bukan tak saling tahu. Perihal apa yang tersirat dalam segala sikap dan salah tingkah.

Diam-diam aku sering memergoki ujung matamu mencuri pandang ke arahku. Pun aku selalu gagal menyembunyikan rona merah di pipi setiap bertegur sapa denganmu. Ah, kita adalah dua anak manusia yang terlalu menggemaskan untuk dipertemukan.

Tak ada satu di antara kita yang berkenan memulai kata. Sampai pada suatu hari aku akan pergi untuk sebuah urusan di luar kota dalam waktu tidak singkat. Aku menerima sepucuk surat yang kau titipkan lewat sahabatku.

Apa kau akan kembali?

Hanya satu kalimat tanya. Cukup bagiku memahami apa yang tersirat di sana. Bahwa ada yang menunggu selepas kepergianku. Pada akhirnya di antara bentang jarak kita memelihara rindu di tempat masing-masing. Sepanjang purnama berlalu, tak kudapat pesan darimu. Pun aku terlalu malu untuk sekedar menanyakan kabarmu. Ah, repot sekali perasaan ini.

Tidak mudah bagiku melalui detik demi detik sampai hari ini. Aku kembali. Menapak kota masa lalu dengan segala kenangannya. Entah kebetulan atau sengaja kau rencanakan. Bersama fajar yang menyingsing tinggi, aku menemukan sepasang mata yang tak asing.

“Hai.” kau membuka dialog.
“Hai juga. Apa kabar?” aku berusaha menyembunyikan canggung.
“Baik, kamu?”
“Seperti yang kau lihat.”

Untuk beberapa detik kita biarkan hening mengudara. Sama-sama tersipu.

“Sudah lama, ya, tidak bertemu.” kataku berusaha menyambung percakapan.
“Iya.”
“Enam bulan. Apa kau tahu?”
“Aku tahu.”

Ah, ternyata kau menghitung kepergianku. Aku mengukir senyum. Kau membalasnya.

“Aku merindukan kota ini, tapi aku tidak tahu apakah kota ini merindukanku.”
“Iya, merindukanmu juga.”

Astaga. Apa yang kau lakukan dengan tatapan dan jawabanmu itu. Rasanya aku ingin pingsan.

“Sepertinya banyak yang berubah di sini.”
“Tidak. Masih sama.”

Sekali lagi. Aku tersenyum, kau juga.

“Aku kembali. Aku telah membaca surat pendekmu waktu itu.”
“Iya, terima kasih.”
“Apa kau menungguku?”
“Iya.”

Angin bertiup lembut menyapu pipi yang merona. Hati menghangat tiba-tiba.

6 komentar:

BERITA TERUPDATE