Update Terbaru ALG

Senin, 18 Februari 2019

Mengeja Teka-Teki


Oleh : Al Ghumaydha'

Aku melihatnya. Meski mata kita tak pernah bertemu. Sikap dan kata-katamu telah menjelaskan. Perihal apa yang tak kau sampaikan. Dan aku tak memiliki kesempatan menjawab apa yang tersimpan dalam gurun pikir.

Kau hanya tersenyum tanpa kalimat. Lantas, apa yang bisa aku berikan? Sementara aku dengar detak jantungmu yang memanggilku. Tak ada pilihan selain diam. Aku hanya tak ingin terlihat bodoh di depan orang-orang. Bagaimana jika ternyata aku saja yang berlebihan.

Mengeja rasa sungguh tak pernah mudah. Namun, aku merasakannya. Ujung mataku selalu memergoki arah pandangmu. Kau suka sekali diam-diam mencuri tatap kepadaku. Aku pura-pura tak tahu, lalu salah tingkah sendiri di dalam hati.

Waktu berlalu, sisa hari-hariku tak banyak lagi di kota ini. Kita belum juga saling berbicara mengutarakan rasa. Ketika hatiku kian risau menunggu, kau jadi teka-teki yang semakin sulit aku mengerti. Kita tetap seperti ini. Menjadi dua kutub dengan perasaan sendiri-sendiri.

Kepergian kian dekat. Aku tak juga melihat kau datang padaku. Meski sekedar mengutarakan salam perpisahan. Apa hanya perasaanku sendiri yang sesibuk ini? Sedangkan kau tetap baik-baik saja dengan rona yang tersirat di parasmu.

Hari ini tiba. Kau benar-benar tak datang. Jauh dari apa yang aku pikirkan sebelumnya. Kukira satu frame akan kau abadikan dalam memori kepala kita masing-masing dengan beberapa kata yang jadi puisi. Rupanya kau sungguh tak peduli. Ya, aku tersenyum getir. Sampai pada detik-detik terakhir, aku mendengar satu suara. “Maaf ...”

Aku tersentak takjub. Beberapa detik kemudian waktu seperti melambat. Aku hanya tersenyum untuk membalas satu kata maaf darimu. Apa lagi yang kuharapkan? Pada akhirnya teka-teki tetap saja bisu. Hari-hari di hadapan adalah episode yang tak berani aku terka. Biarlah mengalir bagai anak sungai menemukan muara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERITA TERUPDATE