Update Terbaru ALG

Minggu, 10 Maret 2019

Berdamai dengan Kehilangan


Oleh : Al Ghumaydha'

“Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi ...” (Q.S Al Baqarah: 284)

Adakah yang indah dari rasa kehilangan? Apa yang tersisa di hatimu setelah kehilangan? Rasa sedih, sakit, kecewa, terluka, menangis, marah, kesal, atau apa lagi?

Coba ingat-ingat kembali. Apa yang dulu pernah hilang dari hidupmu? Atau mungkin hari ini kau sedang mengalaminya? Kehilangan uang? Benda berharga? Barang kesayangan? Sesuatu yang sedang kau perjuangkan? Reputasi? Seseorang? Atau apapun itu.

Apakah kamu anak kos? Ketika keuangan dengan susah payah kau atur agar cukup memenuhi kebutuhan bulanan, tanpa diduga beberapa lembar raib dari kantongmu. Sementara, kau tak sampai hati meminta pada orang tua. Dan kau sudah bekerja keras melakukan paruh waktu di sela-sela aktivitas kuliah. Kau merasa begitu kepayahan.

Apa kau seseorang yang tengah merencanakan suatu planning dalam hidupmu? Kau sedang berjalan, berusaha menyusun baik-baik apa yang ingin kau wujudkan. Penuh teliti dan ulet kau mempersiapkan segalanya. Siang malam waktu istirahatmu mungkin banyak tersita untuk itu. Namun, terjadi suatu hal di luar dugaan merampas paksa apa yang telah kau kerjakan. Kau merasa kesal dan putus asa.

Apakah dirimu memiliki seorang sahabat yang sangat dekat? Kemana pun kalian selalu pergi bersama. Dia selalu mendengar keluh kesahmu. Dia adalah seseorang yang paling hafal ciri khas tawamu, bahkan sampai gaya tidurmu. Seseorang yang kepadanya kau selalu menumpahkan apa saja entah gelisah atau bahagia. Sosok yang selalu memahamimu tanpa kau menjelaskan. Kemudian, pada suatu hari isi kepala kalian berbeda. Kau dan dia terjebak dalam perselisihan yang tak menyenangkan. Kalian tidak lagi berjalan satu arah. Kau pun merasa patah dengan itu.

Apakah kau seorang perantau? Pergi jauh meninggalkan sementara segala muara cinta dan cita-cita. Setiap malam tiada hari tanpa kau merindukan Ayah dan Ibu. Lalu, pada suatu Subuh yang hening teleponmu berdering. Kau dengar kabar yang memecahkan air mata. Allah memanggil beliau tanpa memberimu kesempatan untuk memberi kecupan terakhir. Kau pun merasa sendiri, seolah tidak lagi memiliki siapa pun. Betapa dunia ini rasanya tak adil bagimu yang tengah berjuang sendirian.

Apa kamu sedang jatuh cinta? Seseorang melambungkanmu pada harapan-harapan indah. Hari silih berganti sampai pada akhirnya ada yang tak sama lagi. Kau masih berdiri tegak di atas apa yang kau semogakan, sedangka dia telah jauh berbeda. Langkah kalian tidak lagi seirama. Dia pergi meninggalkan pecahan-pecahan harap yang berserakan di hatimu. Kau jatuh terpuruk, merasakan sengilu-ngilunya luka di dalam hati.

Apakah dirimu seorang pegiat usaha? Kau tengah membangun rencana besar dari bisnismu. Namun, kau masih tertatih. Banyak yang harus kau selesaikan. Modalmu belum semua tertutup atau mungkin keuntunganmu belum cukup menutup pengeluaran kebutuhanmu. Lalu, pada suatu ketika kau ditipu oleh mitra kerja. Dia datang menawarkan keuntungan, namun nyatanya pergi meninggalkan kerugian. Kau kesal dan mengeluh putus asa.

Itu hanya sedikit ilustrasi tentang kehilangan. Mungkin masalahmu jauh lebih berat dari contoh-contoh tadi. Bisa jadi masalahmu tak sesederhana tulisan ini. Kau boleh berpikir jika tulisan ini hanya omong kosong yang tak akan mengubah apapun, termasuk mengembalikan apa yang hilang dari hidupmu. Tulisan ini mungkin juga tak akan mampu mengubah rasa lukamu jadi bahagia. Tidak semudah itu.

Hanya saja, coba kita pikirkan baik-baik. Tidak pernah ada yang salah dari rasa sedih atas kehilangan. Namun, kesalahan itu terletak pada ‘protes’ yang seringkali tanpa kita sadari menjerit dari dalam hati kecil.

Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa hidup ini tidak adil? Kenapa ini harus terjadi ketika aku sedang membutuhkannya? Kenapa Tuhan membiarkan aku sendiri? Kenapa aku menyedihkan sekali? Kenapa milikku harus direnggut paksa? Aku sudah susah payah mendapatkannya, tapi kenapa seperti ini?

Kau boleh menangis. Kecewa, terluka, atau sakit hati selepas kehilangan adalah suatu hal yang manusiawi. Kau bebas melakukannya! Tapi, jangan berpikir atau bersikap seolah kau manusia paling menderita di dunia ini. Pada akhirnya kau memprotes apa yang terjadi pada dirimu. Kau tidak terima dengan apa yang diambil darimu. Jika seperti itu, berarti siapa yang kau salahkan?

“Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi ...” (Q.S Al Baqarah: 284)

Kau memprotes Tuhan? Kau menyalahkan Allah? Apakah salah seorang pemilik mengambil apa yang dimilikinya?

Coba baca ulang Q.S Al Baqarah ayat 284 tadi. Sudah amat sangat jelas dikatakan, “Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi ...”. Kita ini sebenarnya miskin, tidak punya apa-apa. Bahkan termasuk hati kita adalah milik Allah sepenuhnya. Popularitas, harta benda, sanak saudara, atau apapun itu yang hari ini ada di tangan kita hanya titipan semata. Allah menitipkan pada kita untuk menjaga dan mengelola dengan baik. Itu saja.

Sekali lagi, bukan berarti kau tak boleh bersedih. Hanya saja, memprotes kehilangan dan bersikap seolah kamu paling menyedihkan di muka bumi ini akan semakin membuat hatimu kerdil. Apakah dengan protes bisa membuat yang hilang jadi kembali? Justru rasa sedihmu tak akan pernah selesai dengan itu.

Jadi, berbesar hatilah menerima segala ketetapan termasuk perihal kehilangan. Ketika satu sisi hatimu memberontak, buru-buru ingatlah bahwa pada hakikatnya kita memang tak memiliki apapun. Dengan demikian, kau akan melihat kehilangan dengan sudut pandang berbeda. Setelah itu kau akan merasa hatimu jauh lebih baik, percayalah.

Jika hari ini kau berpikir bahwa kehilangan adalah musibah, kau bisa melihat dari sisi berbeda bahwa kehilangan adalah kesempatan bermuhasabah.

Oh, mungkin ada yang salah dengan diriku. Sepertinya aku kurang sedekah. Rupanya Allah belum percaya padaku. Ini berarti memang bukan rezekiku. Pasti akan diganti yang lebih baik. Barangkali Allah punya rencana yang belum aku tahu. Bisa jadi ini karena kesalahanku di masa lalu.

Pada akhirnya hatimu akan jadi seluas samudera. Lapang menerima apa saja. Kesedihan tidak lagi berarti. Muhasabah itu akan membawamu pada sikap memperbaiki apa yang sekiranya salah dari diri sendiri. Bukan justru terus menerus menyalahkan keadaan.

Sekali lagi, tulisan ini tak menjanjikan hatimu dengan cepat bisa menerima kehilangan yang tengah kau alami. Tulisan ini juga tak mengatakan bahwa melupakan apa yang hilang adalah hal mudah. Hanya saja, tulisan ini lahir setelah perjalanan kehilangan demi kehilangan yang membawa hati pada perenungan. Semoga apa yang berusaha disampaikan bisa jadi perantara bagi siapa saja yang tengah merasakan pahitnya kehilangan bersedia membuka hati lebih luas.

Semoga kita senantiasa terjaga dari apa saja yang mengotori hati. Termasuk dalam golongan hamba-hamba-Nya yang bersabar atas ujian, salah satunya perihal kehilangan. Selamat mendewasakan hati!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERITA TERUPDATE