Update Terbaru ALG

Kamis, 21 Maret 2019

Kita Hari Ini


Oleh : Al Ghumaydha'

Dua puluh menit berlalu. Aku benar-benar menghitungnya. Sejak awal teliti melihat jarum panjang jam tangan bergerak dari angka empat menuju angka delapan. Kita hanya duduk bersisian di atas bangku panjang ini. Membiarkan hening yang bicara. Tiga ekor belalang melompat berkejaran di atas rumput. Hanya itu yang sibuk kuperhatikan sejak kau datang.

Benar-benar canggung. Kita sungguh terjebak dalam ruang bisu. Bagai seseorang yang tak saling mengenal satu sama lain. Seperti siswa baru di sekolah yang malu-malu ingin berkenalan. Bilangan purnama telah merubah banyak hal. Rasanya sudah banyak berbeda. Aku tak punya kata-kata untuk memulai. Dan air mukamu menjelaskan hal yang sama.

Dulu kau dan aku adalah kata-kata yang sering bercengkrama di kelam malam. Kita pernah sedekat kertas dan pena. Saling mengkhawatirkan ketika salah satu dari kita tak mengirim kabar. Bahkan pesan dariku adalah satu-satunya yang paling kau tunggu, begitu pun pesanmu untukku. Pada akhirnya kita sampai pada episode dimana mengucapkan selamat tidur adalah ritual setiap malam.

Lalu menjadi seperti ini. Pertemuan hanya sebatas saling diam. Canggung tak bisa kita sembunyikan. Bagaimana perasaanmu padaku sekarang adalah apa yang selalu aku tanyakan dalam hati. Sebab, aku banyak mencemaskan. Bagaimana jika rindu ini hanya jadi milikku sendiri sekarang. Aku sendiri yang diam-diam masih sering mengingatmu dan kau tidak.

“Apa kabar?” tanyamu memulai.
“Baik. Kamu?”
“Baik juga.”
“Baguslah.”
“Boleh aku menyapamu sesekali?”
“Tentu saja.”

Sungguh. Kau bahkan boleh menyapaku setiap hari, kapan pun kau ingin. Persis seperti dahulu. Betapa indah setiap malam dimana aku menemukan wajahku yang tenggelam di bola matamu.

“Aku rindu percakapan kita setiap malam seperti dulu,” kataku pelan sekali hampir tak terdengar.

Kau diam, untuk beberapa detik tak memberi jawaban. Aku melirik sedikit. Wajahmu begitu tenang. Kembali aku menunduk. Lesu.

“Aku juga.”

Sontak aku menoleh dengan cepat. Kau menatapku penuh arti. Apakah mungkin untuk kembali? Tidak. Tentu saja tidak semudah itu.

“Sepertinya sudah banyak yang berubah, ya?” tanyaku.
“Begitulah.”

Ada banyak yang tak mampu kita definisikan. Percakapan hanya berhenti sampai di situ, sebelum matahari benar-benar tenggelam. Dan kita melangkah pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERITA TERUPDATE