Update Terbaru ALG

Sabtu, 02 Maret 2019

Syukuri Porsi Kerenmu


Oleh : Al Ghumaydha'

Pernahkan kamu membandingkan diri sendiri dengan orang lain? Atau bahkan sering? Kamu merasa down ketika melihat keberhasilan atau kesuksesan orang lain. Perasaan minder dan tidak percaya diri menyergap begitu saja.

Kenapa aku tidak seperti dia? Kenapa aku tidak sehebat dia? Kenapa aku tidak sesempurna dia? Kenapa aku tidak secantik dia? Kenapa aku tidak setampan dia? Kenapa aku tidak secerdas dia? Kenapa hafalan dia banyak, sedangkan aku setor satu ayat saja berat sekali? Kenapa dia aktif di banyak kegiatan, sedangkan aku hanya berdiam di rumah? Kenapa dia selalu berkesempatan meraih banyak prestasi, sedangkan aku begini-begini saja? Kenapa di usia muda dia sudah sukses dengan karirnya, sedangkan aku masih susah payah memulai? Kenapa dia begitu, tapi aku begini? Kenapa? Kenapa? Kenapa?

Tidak akan cukup tulisan ini menampung list perbandingan yang selalu kita pertanyakan dalam kepala. Pada akhirnya, di puncak kesibukan membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain kamu merasa benar-benar jatuh. Seolah-olah kamu adalah manusia paling payah di dunia ini. Bahkan hingga berujung frustasi. Jangan salah, ada orang yang seperti ini.

Di tengah rasa kalah yang kamu buat-buat sendiri, coba kita ingat-ingat lagi. Lupakah kamu dengan apa yang sudah kamu lakukan selama ini? Lihatlah apa yang telah kamu dapat sampai hari ini dengan kerja kerasmu. Barangkali, kamu tidak menyadari. Diam-diam mungkin ada orang di luar sana yang ingin sepertimu, ingin menjadi dirimu, ingin mendapat posisimu, atau ingin memiliki apa yang kamu miliki. Tapi, kamu justru mencemburui kehidupan orang lain?

Tidakkah ini sama artinya dengan kufur nikmat?

Ketika kamu mencemburui temanmu yang sudah mapan secara finansial karena bisnisnya, sedangkan kamu masih sibuk dan mulai jenuh dengan aktivitas kuliah. Kamu tidak tahu, barangkali teman yang kau cemburui itu juga mencemburui prestasi gemilangmu di banyak kegiatan kampus. Dia juga ingin sepertimu, tapi waktunya lebih banyak tersita untuk pekerjaannya.

Atau saat kau iri dengan kehidupan seseorang yang bergelimang materi dari orang tuanya. Segala apapun yang dia inginkan dengan mudah terpenuhi, sementara untuk membeli sesuatu kamu perlu bekerja keras sendiri untuk mendapatkan uang. Kamu tidak tahu, barangkali juga seorang temanmu yang bergelimang materi dari orang tuanya itu mencemburui kemandirian usahamu. Dia ingin seperti kamu, tapi dia tak sekreatif kamu.

Jadi, dimana letak rasa syukur kita selama ini? Kita terlalu sibuk melihat kelebihan orang lain, tapi lupa bersyukur atas apa yang ada pada diri sendiri.

Tapi, pada kenyataannya aku memang tak sehebat dia. Dia mampu melakukan banyak hal, sedangkan aku tidak. Dia punya banyak keberuntungan dalam hidup, sedangkan hidupku datar sekali.

Jangan menakar hidupmu dengan hidup orang lain. Percayalah, semua sudah ada porsinya masing-masing. Ga percaya?

“Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di muka bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahateliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (Q.S Asy Syuuraa: 27)

Jangan menyempitkan makna rezeki hanya sebatas pada gaji, harta, uang, atau apapun yang sifatnya materi. Tapi, rezeki itu memiliki makna luas baik itu perihal kesempatan, kemudahan, prestasi, kreativitas, dan apapun itu yang membawa kebaikan untuk kelangsungan hidup kita. Nah, di dalam ayat tadi telah jelas dikatakan bahwa, “... Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki ...”. Allah memberikan jatah untuk setiap individu dengan ukuran, porsi, atau takarannya masing-masing. Tentu saja dengan takaran yang cukup, tidak lebih dan tidak kurang. Sebab, “Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di muka bumi,...”. Kita ini manusia biasa yang seringkali khilaf. Jika Allah menyamaratakan semua manusia di muka bumi dengan rezeki berlimpah, apakah kamu bisa menjamin akan memperlakukan rezeki tersebut sesuai haknya?

Begini contoh sederhananya. Mungkin kamu tidak terlahir dari keluarga kaya, karena Allah tahu kamu memiliki kepribadian yang cenderung angkuh. Jadi, Allah memberi kehidupan sederhana pada kamu agar kamu terhindar dari sifat angkuh tersebut.

Tapi, ini berarti Allah tidak adil!

Masih protes? Coba cek kalimat terakhir dalam ayat tadi, “... Sungguh, Dia Mahateliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat. Allah lebih tahu tentang dirimu daripada kamu sendiri, Sayang. Allah jauh lebih tahu mana yang terbaik untuk kita. Percayalah.

Jadi, apa masalahnya selama ini? Kenapa kita selalu saja membandingkan diri sendiri dengan orang lain?

Masalahnya ada di dalam hati kita. Barangkali kita kurang bersyukur. Kita terlalu sibuk melihat apa yang ada pada orang lain, sampai lupa melihat kelebihan diri sendiri. Setiap orang itu keren dan istimewa. Termasuk kamu! Tentu saja keren versi pribadi masing-masing. Berbeda dan tidak bisa disamaratakan.

Sebenarnya iri atas kelebihan orang lain itu boleh. Namun, jadikan rasa iri itu sebagai motivasi untuk melejit jadi yang terbaik juga. Bukan justru terpuruk dan merasa payah, lalu membenamkan diri pada rasa frustasi. Kalau seperti itu, justru sama saja dengan mendzolimi diri sendiri.

Mulai hari ini, belajarlah mencintai dirimu sendiri. Ketika mulai silau mendongak, tundukkan kepalamu. Berhentilah berpikir bahwa orang lain lebih hebat. Namun, syukuri bahwa kamu memiliki potensi berbeda yang tak kalah hebat dari dia.

Pada akhirnya, selamat mensyukuri keren versi diri kamu sendiri!

4 komentar:

  1. Sering upload yg kyak beginian dong ukh, bisa buat remember pas lagi down, terimakasih tulisannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalah saya yang masih belajar ini. Bukan persoalan mau atau tidak mau, tapi lebih kepada hati-hati dalam menyampaikan apapun. Saya khawatir luwes menyampaikan,tapi gagal mengamalkan sendiri. Terima kasih sarannya. Semoga kita senantiasa terjaga dalam kebaikan 😊

      Hapus
  2. Berani jatuh cinta berani tersakiti ,. Eaaaak wkwkw semangat terus kak maydha . Klw ada waktu senggang aku akan terus baca nih lapak wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sejujurnya aku bingung dimana kesinambungan komentar kamu sama topik tulisan ini 😂
      Tapi, terima kasih sudah berkunjung. Selalu dinanti kunjungan berikutnya, ya 😊

      Hapus

BERITA TERUPDATE