Update Terbaru ALG

Sabtu, 17 Agustus 2019

Dilema Anasir Rasa


Oleh : Al Ghumaydha'

Aku terjebak pada dilema luar biasa. Antara memilih diam atau mengungkapkan. Ketika detik demi detik kian berat berlalu. Hati memaksa untuk bertahan. Sementara logika ingin melumpuhkan. Rasanya tak ada pilihan terbaik.

Semenyebalkan apapun urusan ini, tak ada yang pantas dipersalahkan. Kau beserta dirimu apa adanya, pun aku sibuk dengan diri sendiri. Lalu embun rasa menetes satu per satu, mengalir bersama darah dalam syaraf-syaraf tubuhku. Ada desir tak bernama setiap kali kutemukan punggungmu di manik mataku.

Sekeras apapun berusaha baik-baik saja, aku selalu lemah dan berakhir kalah. Belati seperti menyayat punggung perlahan-lahan. Air mata berdesakkan meminta ditumpahkan. Telapak telah penuh darah oleh duri yang kugenggam sendiri. Tanpa kutahu, tawamu adalah kesungguhan atau topeng belaka untuk menutup dera yang sama.

Kukira kita sama-sama membangun tinggi benteng ego. Lantas melukai diri sendiri tiada henti. Seringkali aku takjub sekaligus muak dengan pertahanan prinsip dalam kepalamu. Sementara gurun pikirku sibuk menarik keputusan; haruskah melangkah lebih dulu atau tetap menunggu. Sedangkan kamu selalu menjebakku pada sebentuk ragu dalam bisu.

Apapun jalan yang kita pilih, pada akhirnya sama-sama menyakitkan. Sekali pun apa yang terpendam harus kita utarakan, sama sekali tak menjamin semua akan selesai tanpa luka. Apakah kenyataan berbicara bahwa rasa ini sekedar simpati atau sungguh dari kedalaman hati, tetap saja takdir belum berpihak pada kita untuk saling memiliki.

4 komentar:

  1. Jikalau hanya simpati kuberdo'a agar tidak menetap terlalu lama, bila sungguh dari kedalaman hati maka kupohonkan meniti tidak pada jalan yang salah.. T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga selalu dibimbing pada ketetapan terbaik :)

      Hapus
  2. Seperti perasaan mengagumi seseorang dalam Diam...

    Ego memang sering mematahkan Rasa...
    Dan Rasa pun kerap Kali Meruntuhkan Ego...
    Namun jika Ego dan Rasa tetap dikemas dalam Bungkam. Biarkan Doa yang terlangitkan menembus Dimensi pengharapan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebuah pemaknaan yang dalam. Dan aku sepakat :)

      Hapus

BERITA TERUPDATE