Update Terbaru ALG

Minggu, 06 Oktober 2019

Sisa Bahagia


Oleh : Al Ghumaydha'

Kita akan menyadari arti kehadiran setelah seseorang itu pergi dan hilang. Nyatanya kalimat itu sama sekali bukan omong kosong. Aku tidak bisa mengatakan bahwa perasaanku baik-baik saja. Ketika kudengar kabar, ada satu hati meminta kedatanganmu.

Selama ini kau tak pernah jeda memberi waktu dan perhatian. Sementara hatiku terlalu beku untuk membalas perasaan. Seringkali aku tak pernah mengerti. Sebanyak apapun berusaha menerimamu, selalu saja aku dibenturkan kegagalan. Sampai akhirnya debar menyakitkan itu datang.

Jika benar takdir membawamu pergi bersama nama lain, sama sekali tak ada hak bagi diriku mencegahmu. Sekali pun mata telah terbuka, melihat seberapa tulus selama ini kau padaku. Sudah terlambat untuk melarungkan sesal. Malam jadi begitu mencekam penuh derai tangisan. Ketika aku bayangkan masa depan bersamamu benar-benar tinggal angan.

Setelah hari ini, tak akan ada lagi pundakmu yang menawarkan tempat istirahat bagiku. Situasi ini terlalu menyesakkan. Aku ingin kembali pada waktu dimana baik-baik saja menjalani hari tanpa mengenalmu.

Hanya saja, bolehkah aku meminta? Aku ingin menghabiskan porsi bahagia bersamamu di sisa waktu yang kita miliki sebelum kau benar-benar pergi. Bercengkrama di tengah malam, mendiskusikan isi beberapa buku yang kita baca, meminta pendapat soal pekerjaan, menceritakan keluh aktivitas harian, bercanda bersama, atau apapun yang mampu melegakan perasaan.

Aku akan menjadikannya bekal mengumpulkan kekuatan. Agar kelak tegar, ketika menyaksikan langkah kakimu bersanding dengan dia di atas pelaminan. Sebab, aku harus selalu baik-baik saja meski sesulit apapun keadaan.

Sungguh tak mengapa. Tidak ada yang perlu kita sesali atau mencaci takdir yang telah terjadi. Percayalah, bahwa perjalanan ini sesungguhnya mendewasakan hati. Meski untuk mendapatkannya, harus kita bayar dengan menelan pil pahit penuh elegi.

5 komentar:

  1. Makanya jangan terlalu abai dengan dia yang ingin menunjukkan rasa 😢

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah, sesal selalu saja terlambat

      Hapus
    2. Benar sesal selalu diakhir dan terlambat.

      Hapus
    3. Bukan sesal yang datang terlambat. Tapi rasa yang hadir di waktu tidak tepat.

      Hapus

BERITA TERUPDATE